NILAI MORAL DALAM CERITA RAKYAT LOMBOK SEBAGAI
SARANA PENDIDIKAN KARAKTER
PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan cerita rakyat, baik yang diwariskan
secara lisan maupun tertulis. Menurut Septiandari (2010: 6) cerita rakyat Indonesia selain bersifat
menghibur, juga dapat menjadi suri teladan bagi anak-anak Indonesia karena
sarat akan pesan moral. Cerita rakyat yang sarat akan nilai- nilai moral dan kearifan lokal bisa menjadi sarana
komunikasi untuk mengajarkan nilai-nilai tentang kehidupan kepada anak-anak. Setiap wilayah tentunya mempunyai cerita rakyat yang
dituturkan secara lisan. Cerita rakyat yang pada mulanya dilisankan selain
berfungsi untuk menghibur, juga dapat memberikan pendidikan moral. Cerita
rakyat merupakan pencerminan dari kehidupan masyarakat pada saat itu, pola
pikir dan hayalan yang menarik, sehingga masyarakat merasa tertarik dan
memperoleh keteladanan moral.
Nilai-nilai yang disampaikan dengan
cerita akan lebih membekas dan merasuk pada diri seseorang dibandingkan cara
penyampaian yang lain. Menurut Safrudin (2012: vi) cerita rakyat, sebagai salah
satu kekayaan kesastraan, dapat dijadikan sebagai hiburan sekaligus alat
pendidikan untuk membangun karakter bangsa di lembaga pendidikan formal maupun
nonformal. Selain itu, cerita rakyat juga menangandung nilai-nilai yang
mendekatkan seseorang kepada masyarakat. Pada tahap selanjutnya, kedekatan
tersebut akan membentuk pribadi yang berkarakter dan mengenal lingkungannya.
Perlu kita sadari bahwa media kemajuan media telah menyodorkan berbagai cerita
alternatif. Dalam waktu yang sama, cerita rakyat yang telah terbukti mampu
membentuk pribadi-pribadi berkarakter sudah mulai ditinggalkan.
PEMBAHASAN
Cerita rakayat mengandung nilai edukatif. Biasanya di
balik sebuah cerita memuat pesan moral tertentu. Seringkali untuk menanamkan
akhlak terpuji dibalut dengan cerita. Melalui karya
sastra baik cerita, sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca dapat
diharapkan mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan atau
diamanatkan. Amanat itulah yang sebenarnya merupakan gagasan yang mendasari
penulisan karya itu, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai
pendukung pesan.
Teks cerita rakyat Lombok banyak mengandung pesan-pesan
moral sebagai sarana pendidikan karakter.
Unsur
Instrinsik Cerita Rakyat Lombok
1.
Asal Usul Upacara Bau Nyale
Tema Pengorbanan.
Amanat Putri Mandalika rela
mengorbankan dirinya demi kedamaina negeri tercinta.
“Ayah, ibu
dan segenap rakyat Tunjung Bitu yang aku cintai. Maafkan aku jika keputusanku
ini tidak berkenan di hati kalian. Aku hanyalah seorang manusia yang penuh
dengan dosa. Oleh karena itu, aku tidak bisa memilih siapa pun di antara
pangeran-pangeran yang telah melamarku. Aku tindak pantas melakukan hal itu.
Diriku adalah milik kalian semua.” Kemudian putri Mandalika menceburkan dirinya
ke laut. (Septiandari, 2010:11)
Alur/Plot Alur maju
Tokoh Pelaku utama, Putri Mandalika
Pelaku
pembantu, Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting, pangeran-pangeran.
Tokoh
dalam cerita ini semuanya protagonis.
“Putri Mandalika
adalah seorang gadis yang cantik rupawan. Selain cantik, tutur kata dan
perbuatannya juga sangat santun”. (Septiandari, 2010:7)
Penokohan Watak tokoh Putri Mandalika
yang memiliki sifat baik dan bijaksana.
“Putri
Mandalika adalah seorang gadis yang cantik rupawan. Selain cantik, tutur kata
dan perbuatannya juga sangat santun”. (Septiandari, 2010:7)
Latar/Setting Latar tempat,
Pantai Kuta Lombok
“Di pantai
Lombok bagian selatan berdirilah sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Tunjung
Bitu”. (Septiandari, 2010:7)
Latar waktu, zaman dahulu kala
“Pada
zaman dahulu kala, di pantai Lombok bagian selatan berdirilah sebuah kerajaan
yang bernama Kerajaan Tunjung Bitu.” (Septiandari, 2010:7)
Latar suasana, terharu dan sedih.
“Putri
Mandalika tidak mampu meneruskan ucapannya. Hatinya sangat bersedih. Tanpa
terasa, air mata menetes di pipinya. Melihat Putri Mandalika menangis, raja,
permaisuri dan segenap rakyat Tunjung Bitu ikut terharu. Tangis mereka pun
pecah. (Septiandari, 2010:12)
Gaya bahasa Mudah dipahami karena tidak berbelit-belit.
Sudut pandang Orang ketiga.
“Putri
Mandalika yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ia didampingi oleh raja
Tonjang Bitu, Dewi Seranting serta beberapa orang pengawal.” (Septiandari,
2010:11)
2.
Kisah Doyan Nada
Tema Kegigihan
dan kesabaran hati
Amanat Tokoh Doyan Nada patut di
turuti karena kegigihan dan kesabaran dia, Doyan Nada akhirnya mendapatkan
kebahagiaan dan bisa menjadi seorang raja.
“Perjalanan
Doyan Nada penuh dengan rintangan.” (Septiandari, 2010:18)
Alur/Plot Alur maju
Tokoh Pelaku Utama, Doyan Nada (protagonis)
Pelaku
pembantu: Ayah Doyan Nada (antagonis)
Ibu Doyan Nada (tritagonis)
Dewi Anjani (tritagonis)
Tameng Muter (tritagonis)
Sigar Penjalin (tritagonis)
Penokohan Doyan Nada,
Pantang
menyerah, walaupun sudah beberapa kali ayahnya mencoba membunuh Doyan Nada.
“Doyan Nada hidup kembali. Ia pilang ke rumah dengan membawa batang pohon yang
menimpanya. (Septiandari, 2010:18)
Ayah Doyan Nada,
Ayahnya
sangat heran melihat Doyan Nada hidup kembali. Ia lalu mencari akal agar dapat
membunuh Doyan Nada lagi.
Latar/Setting Latar tempat,
Gunung Rinjani
“Di Puncak
Gunung Rinjani yang terdapat di pulau Lombok, berkuasalah seorang perempuan
dari bangsa jin yang bernama Dewi Anjani.” (Septiandari, 2010:14)
Latar waktu, zaman dahulu kala
“Pada
zaman dahulu kala, di puncak Gunung Rinjani di pulau Lombok, berkuasalah
seorang perempuan dari bangsa jin yang bernama Dewi Anjani.” (Septiandari,
2010:14)
Latar suasana, bahagia setelah melewati berbagai rintangan
“Tak lama kemudian, Doyan Nada dan kedua sahabatnya
mendirikan kerajaan di Lombok.” (Septiandari, 2010:20)
Sudut pandang Orang ketiga
“Di tengah
hutan ia beberapa kali dihadang oleh binatang buas.” (Septiandari, 2010:19)
Gaya bahasa Mudah
dipahami karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
3.
Papuq Mame dan Papuq Nine
Tema Ketamakan
Amanat Ketamakan hanya akan
mendatangkan kerugian. Papuq Mame dan Papuq Nine tidak pernah puas dengan apa
yang mereka miliki. Akibatnya mereka malah mendapatkan kerugian.
“Maka
berdoalah mereka kepada Tuhan. Mereka memohon agar diubah menjadi Tuhan.
Setelah selesai berdoa, ternyata mereka kembali lagi menjadi sandal.”
(Septiandari, 2010:33)
Alur/Plot Alur Maju
Tokoh Pelaku utama Papuq Mame, Papuq Nine
Pelaku
pembantu Raja, Ratu (tritagonis)
Penokohan Papuq Mame dan Papuq Nine
“Begini
saja. Bagaimana jika kita berdoa kepada Tuhan agar dijadikan sepasang tikus.
Dengan begitu, tikus itu tidak akan menggigit kita,”ujar Papuq Mame kepada
Papuq Nine.
Latar/Setting Latar tempat,
sebuah kerajaan di Lombok
“Di pulau
Lombok, hiduplah seorang raja yang memiliki sepasang sandal dari kulit kerbau.”
(Septiandari, 2010:29)
Latar waktu, zaman dahulu kala
“Pada zaman dahulu kala, di pulau Lombok, hiduplah seorang
raja.” (Septiandari, 2010:29)
Latar suasana, kekhawatiran sepasang sandal
“Aku
khawatir, lama-kelamaan kita bisa digigitnya.” (Septiandari, 2010:31)
Sudut pandang Orang ketiga
“Setelah
menjadi tikus, mereka berdua suka membuat
ulah.” (Septiandari, 2010:31)
Gaya bahasa Mudah
dipahami karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
4.
Telaga Dundang
Tema Kesabaran
seorang adik
Amanat Telaga Dundang
memanfaatkan kebaikan adiknya yaitu Telaga Anis untuk mendapatkan perhatian
lebih dari ibunya. Hal yang dilakukan Telaga Dundang tidak patut dituruti
dikehidupan sehari-hari.
“Telaga
Dundang melahap makanan yang ada di talam merah. Ia tak ingat akan adiknya yang
setengah hari membajak sawah.” (Safrudin, 2012:6)
Alur/Plot Alur maju
Tokoh Pemain utama, Telaga Anis (protagonis)
Telaga Dundang (antagonis)
Pemain
pembantu, ibu (tritagonis)
Putri Kenrang (tritagonis)
Penokohan Telaga Anis
“Nama kita
kan pemberian orang tua,” jawab Berhale (Telaga Anis). Tidak baik nanti kalau
didengar oleh orang lain.”
Telaga Dundang
“Ya.
Telaga Anis tak mau bekerja ia hanya duduk-duduk di bawah pohon itu,” kata
Telaga Dundang membohongi ibunya.” (Safrudin, 2012:6)
Ibu
“Tidah
usah. Kamu kan tidak kerja! Ini hanya untuk kakak mu,” kata sang ibu.”
(Safrudin, 2012:6)
Latar/Setting Latar tempat,
pantai Kuta
“Tempat
mereka terjun itu sekarang disebut Telaga Dundang, di pantai Kuta.” (Safrudin,
2012:8)
Latar waktu, zaman dahulu kala
siang
hari
“Telaga Anis istirahat. Ia duduk di bawah pohon ketujur untuk menghindari panasnya terik
matahari.” (Safrudin, 2012:4)
Latar susana, sedih
“Sang ibu, Telag Dundang dan Putri kenrang menangis melihat
adiknya menghilang di tengah laut.” (Safrudin, 2012:8)
Sudut pandang Orang ketiga
“Telaga
Anis telah tiba di pantai Kuta. Ia seperti berkata-kata pada kerbaunya.”
(Safrudin, 2012:8)
Gaya bahasa Mudah
di pahami, karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
5.
Batu
Goloq
Tema Penyesalan
Amanat Menghukum anak seharusnya
tidak berlebihan karena akibat dari hukuman itu sang anak menghilang dan tidak
bisa kembali lagi kepangkuan orang tua.
“Batu besar
itu semakin meninggi hingga di atas awan. Sedangkan kedua kakak beradik itu
telah dibawa oleh bidadari ke alamnya melalui pintu langit yang tinggi.”
(Safrudin, 2012:78)
Alur/Plot Alur Maju
Tokoh Pelaku utama, kakak dan adik (protagonis)
Pelaku
pembantu, Amaq Lembain dan Inaq Lembain
(tritagonis)
Penokohan Kakak dan adik,
“Tak tahan
mendengar rengekan sang adik, sang kakak pun mengambilkan nasi untuk adiknya.”
(Safrudin, 2012:76)
Inaq
Lembain dan Amaq Lembain
“Maafkan,
anakku. Amaq dan Inaqmu hanya dapat sedikit kayu bakar, hanya bisa ditukar
dengan umbi-umbian saja,” kata Inaq Lembain kepada kedua anaknya.” (Safrudin,
2012:72)
Latar/Setting Latar tempat, padamara, Lombok Timur, NTB
“Batu
goloq itu pecah menjadi tiga bagian dan jatuh di tiga temapat yang menjadi asal
usul nama desa di padamara, Lombok Timur, NTB.” (Safrudin, 2012:79)
Latar waktu, zaman dahulu kala
Pagi
“Setiap
pagi, Amaq Lembain dan Inaq Lembain mereka selalu pergi ke tengah hutan yang
jauh dari rumahnya.” (Safrudin, 2012:72)
Latar suasana, sedih
“Inaq Lembain pun berteriak memanggil-manggil anaknya agar
kembali ke rumah. Inaq Lembain menangis, sedangkan Amaq Lembain bersedih.”
(Safrudin, 2012:78)
Sudut pandang Orang ketiga
“Masyarakat
setempat mangetahui peristiwa itu. Sejak terjadinya peristiwa itu, masyarakat
sekitar menamai batu itu dengan nama Batu Goloq.” (Safrudin, 2012:78)
Gaya bahasa Mudah
dipahami karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Unsur Ekstrinsik Cerita Rakyat Lombok
adalah unsur yang tidak secara langsung melekat dan
membangun karya sastra.
1.
Asal Usul Upacara Bau Nyale
Di pantai Kute Lombok terdapat
upacara Bau Nyale yang dilaksanakan pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak.
Upacara itu dilakukan untuk mengenang pengorbanan Putri Mandalika yang
mengorbankan dirinya demi perdamaian negeri tercinta. Putri Mandalika menjelma
menjadi Nyale (cacing laut) setelah
menceburkan dirinya ke laut.
Cerita Putri Mandalika tersebut ada
karena cacing laut jelmaan Putri yang hanya ada di Pantai Kuta setiap tanggal
20 bulan 10 penanggalan Sasak.
Pada saat itu masyarakat Sasak masih
menggunakan sistem kerajaan yaitu di dalam cerita Asal Usul Upacara Bau Nyale
terdapat kerajaan Tunjung Bitu.
“Pada zaman dahulu kala, di pantai Lombok bagian selatan, berdirilah sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Tunjung Bitu.” (Septiandari, 2010:7)
“Pada zaman dahulu kala, di pantai Lombok bagian selatan, berdirilah sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Tunjung Bitu.” (Septiandari, 2010:7)
2.
Kisah Doyan Nada
Cerita Doyan Nada ini merupakan
cerita yang mengangkat asal usul kerajaan di Pulau Lombok. “Tak lama kemudian,
Doyan Nada dan kedua sahabtnya mendirikan kerajaan di Lombok.” (Septiandari,
2010:20)
Konon zaman dahulu kala pulau Lombok
belum ada manusia yang menghuninya, sehingga Dewi Anjani merubah jin menjadi
manusia. Kemudian manusia tersebut yaitu Doyan Nada dan sahabatnya mendirikan
kerajaan setelah mengalami berbagai rintangan.
3.
Papuq Mame dan Papuq Nine
Kisah ini terjadi di sebuah kerajaan
di Lombok. Sepasang sandal yang tidak tau diri, sandal yang tamak tidak pernah
merasa puas dengan apa yang ada didirinya. Sepasang sandal ini merupakan barang
kesayangan sang raja, tetapi sandal ini ingin menaikkan status sosialnya
menjadi raja. “Permohonan mereka (sepasang sandal) dikabulkan. Mereka diubah
menjadi manusia kemudian menjadi raja.” Septiandari, 2010:32)
4.
Telaga Dundang
Kehidupan keluarga telaga dundang
pada zaman dahulu adalah sebagai petani dan peternak kerbau. “Mereka mempunyai
empat puluh empat ekor kerbau dan satu hektar sawah.” (Safrudin, 2012:1)
Telaga Dundang dan Telaga Anis
setiap hari menggembala kerbau.
5.
Batu Goloq
Ekonomi keluarga Amaq Lembain dan
Inaq Lembain termasuk kurang. “Beratap ijuk, berdinding bambu. Tampak sebuah
rumah kecil berpagar berluntas, di tepi hutan jati. Katanya, rumah itu dihuni
oleh Amaq Lembain dan Inaq Lembain beserta kedua anaknya.” (Safrudin, 2012:72)
Amaq Lembain dan Inaq Lembain setiap
hari mencari kayu bakar di hutan untuk menukarkannya dengan beras.
Nilai Pendidikan Karakter dalam Cerita Rakyat Lombok
Dalam
rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan
telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, pancasila, budaya,
dan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
(1) Religius (10)
Semangat kebangsaan
(2) Jujur (11)
Cinta tanah air
(3) Toleransi (12)
Menghargai prestasi
(4) Disiplin (13)
Bersahabat/komunikatif
(5) Kerja keras (14)
Cinta damai
(6) Kreatif (15)
Gemar membaca
(7) Mandiri (16)
Peduli lingkungan
(8) Demokratis (17)
Peduli sosial
(9) Rasa Ingin Tahu (18)
Tanggung jawab
(Sumber: Pusat
Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya
dan Karakter Bangsa: Pedoman
Sekolah. 2009:9-10)
1.
Asal
Usul Upacara Bau Nyale
Pendidikan
karakter dalam cerita “Asal Usul Upacara Bau Nyale”
Karakater
tanggung jawab Putri Mandalika
“Aku mohon ayah tidak usah bingung
memikirkan masalah ini. Biar aku saja yang menyelesaikannya karena ini adalah
tanggung jawabku.” (Septiandari, 2010:9)
Sikap
tanggung jawab sang putri di tunjukkan dengan dia tidak ingin membuat orang
tuanya menyelesaikan masalah yang dia sebabkan.
Karakter
cinta tanah air Putri Mandalika
“Ayah, ibu dan segenap rakyat Tunjung
Bitu yang aku cintai. Maafkan jika keputusan ku ini tidak berkenan di hati
kalian. Aku tidak bisa memilih siapa pun di antara pangeran-pangeran yang telah
melamarku. Aku tidak pantas melakukan hal itu. Diriku adalah milik kalian
semua.” (Septiandari, 2010:12)
Putri
Mandalika melakukan hal itu agar tidak terjadi pertarungan para pangeran demi
mendapatkannya, yang akan menyebabkan mala petaka di negerinya tercinta.
2.
Kisah
Doyan Nada
Pendidikan
karakter dalam kisah “Doyan Nada”
Karakter
bersahabat Doyan Nada
“Petapa
itu terlalu lama bertapa di bawah pohon beringin sampai akar beringin melilit tubuhnya.
Doyan Nada segera menyelamatkannya. Petapa itu bernama Tameng Muter. Mereka pun
bersahabat.” (Septiandari, 2010:19)
Karakter
Doyan Nada tersebut patut dituruti dalam kehidupan sehari-hari, bahwa kita
harus bersahabat dengan siapa pun.
Karakter
ayah Doyan Nada yang tidak jujur
“Setelah
Doyan Nada mati, ayahnya kembali pulang. Ketika istrinya menanyakan keberadaan
Doyan Nada, ia pura-pura tidak tahu.” (Septiandari, 2010:17)
Karakter
tidak jujur ayah Doyan Nada tidak patut dituruti di kehidupan sehari-hari.
3.
Papuq
Mame dan Papuq Nine
Pendidikan
karakter cerita “Papuq Mame dan Papuq Nine”
Karakter
Papuq Mame dan Papuq Nine yang religious
“Mereka
lalu berdoa kepada Tuhan. Tuhan mengabulkan doa mereka dan menjadikan mereka
sepasang tikus.” (Septiandari, 2010:31)
Mereka
mempercayai kebesaran Tuhan sehingga mereka berdoa dan Tuhan mengabulkan
doanya. Tetapi mereka tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberikan,
akhirnya mereka kembali lagi menjadi sepasang sandal.
4.
Telaga
Dundang
Pendidikan
karakter dalam cerita “Telaga Dundang”
Karakter
tidak jujur Telaga Dundang
“Ya.
Telaga Anis tak mau bekerja. Ia hanya duduk-duduk di bawah pohon itu,” kata
Telaga Dundang sambil melahab makanan yang ada di depannya.” (Safrudin, 2012:6)
Telaga
Dundang membohongi ibunya agar dia mendapatkan makanan. Dia lupa akan jerih
payah adiknya yang bekerja. Sikap ketidak jujuran Telaga Dundang ini sangat
tidak patut diikuti di kehidupan sehari-hari karena akan merugikan orang lain.
Karakter
Telaga Anis yang bekerja keras
“Selepas
istirahat, Telaga Anis membajak sawah. Lain halnya dengan Telaga Dundang. Ia
tidak mau membantu adiknya membajak sawah.” (Safrudin, 2012:3)
5.
Batu
Goloq
Pendidikan
karakter cerita “Batu Goloq”
Karakter
peduli sosial kakak
“Tak
tahan akan rengekan sang adik, sang kakak pun mengambilkan nasi untuk
adiknya.”( Safrudin, 2012:76)
Kakak
tidak tahan melihat adiknya merengek karena lapar, sehingga dia mengambilkna
nasi untuk adiknya. Dalam kehidupan sehari-hari kita patut memiliki jiwa
sosial. Tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri tetapi kita juga harus
membantu orang lain yang membutuhkan bantuan kita.
Kesimpulan
Cerita
rakyat merupakan peninggalan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Cerita
rakyat memiliki banyak pesan moral yang bisa dipetik anak-anak agar bisa tumbuh
menjadi anak yang baik, memiliki sopan santun dan moral yang baik. Dalam cerita rakyat Lombok ini,
pendidikan karakter tidak hanya diambil dari contoh-contoh baik namun juga
contoh tidak terpuji. Dengan adanya
perancangan Tugas Akhir ini diharapkan anak-anak lebih menyenangi cerita rakyat
Indonesia, sehingga mereka bisa memetik pesan moral dan nilai pendidikan
karakter yang ada di dalam cerita tersebut hingga mereka bisa bertumbuh menjadi
anak yang baik.
Saran
Dengan adanya artikel “Cerita Rakyat Lombok” ini, anak-anak akan
bisa bertumbuh menjadi anak yang baik saat mereka menyerap pesan moral, nilai
pendidikan karakter dan pembelajaran yang ada di dalam cerita rakyat ini.
Selain itu, mereka akan menjadi generasi penerus yang akan meneruskan cerita
rakyat tersebut pada generasi berikutnya. Dengan begitu, maka cerita rakyat
yang merupakan salah satu budaya Indonesia tidak akan hilang.
DAFTAR PUSTAKA
Pusat Kurikulum. (2009). Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman
Sekolah (hal. 9-10). Jakarta.
Septiandari, Sekar. 2010. Seri
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat. Jakarta: KARISMA Publishing Group.
Safrudin, Balok. 2012. Kumpulan
Cerita Rakyat Suku Sasak. Lombok Timur: PRIMAGUNA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar