Jumat, 20 Desember 2013







NILAI MORAL DALAM CERITA RAKYAT LOMBOK SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER

PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan cerita rakyat, baik yang diwariskan secara lisan maupun tertulis. Menurut Septiandari (2010: 6)  cerita rakyat Indonesia selain bersifat menghibur, juga dapat menjadi suri teladan bagi anak-anak Indonesia karena sarat akan pesan moral. Cerita rakyat yang sarat akan nilai- nilai moral  dan kearifan lokal bisa menjadi sarana komunikasi untuk mengajarkan nilai-nilai tentang kehidupan kepada anak-anak. Setiap wilayah tentunya mempunyai cerita rakyat yang dituturkan secara lisan. Cerita rakyat yang pada mulanya dilisankan selain berfungsi untuk menghibur, juga dapat memberikan pendidikan moral. Cerita rakyat merupakan pencerminan dari kehidupan masyarakat pada saat itu, pola pikir dan hayalan yang menarik, sehingga masyarakat merasa tertarik dan memperoleh keteladanan moral.
Nilai-nilai yang disampaikan dengan cerita akan lebih membekas dan merasuk pada diri seseorang dibandingkan cara penyampaian yang lain. Menurut Safrudin (2012: vi) cerita rakyat, sebagai salah satu kekayaan kesastraan, dapat dijadikan sebagai hiburan sekaligus alat pendidikan untuk membangun karakter bangsa di lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Selain itu, cerita rakyat juga menangandung nilai-nilai yang mendekatkan seseorang kepada masyarakat. Pada tahap selanjutnya, kedekatan tersebut akan membentuk pribadi yang berkarakter dan mengenal lingkungannya. Perlu kita sadari bahwa media kemajuan media telah menyodorkan berbagai cerita alternatif. Dalam waktu yang sama, cerita rakyat yang telah terbukti mampu membentuk pribadi-pribadi berkarakter sudah mulai ditinggalkan.
PEMBAHASAN
Cerita rakayat mengandung nilai edukatif. Biasanya di balik sebuah cerita memuat pesan moral tertentu. Seringkali untuk menanamkan akhlak terpuji dibalut dengan cerita. Melalui karya sastra baik cerita, sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca dapat diharapkan mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan atau diamanatkan. Amanat itulah yang sebenarnya merupakan gagasan yang mendasari penulisan karya itu, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai pendukung pesan.
Teks cerita rakyat Lombok banyak mengandung pesan-pesan moral sebagai sarana pendidikan karakter.
Unsur Instrinsik Cerita Rakyat Lombok
1.      Asal Usul Upacara Bau Nyale
Tema                           Pengorbanan.
Amanat                       Putri Mandalika rela mengorbankan dirinya demi kedamaina negeri tercinta.
                                    “Ayah, ibu dan segenap rakyat Tunjung Bitu yang aku cintai. Maafkan aku jika keputusanku ini tidak berkenan di hati kalian. Aku hanyalah seorang manusia yang penuh dengan dosa. Oleh karena itu, aku tidak bisa memilih siapa pun di antara pangeran-pangeran yang telah melamarku. Aku tindak pantas melakukan hal itu. Diriku adalah milik kalian semua.” Kemudian putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut. (Septiandari, 2010:11)
Alur/Plot                     Alur maju
Tokoh                          Pelaku utama, Putri Mandalika
Pelaku pembantu, Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting, pangeran-pangeran.
Tokoh dalam cerita ini semuanya protagonis.
“Putri Mandalika adalah seorang gadis yang cantik rupawan. Selain cantik, tutur kata dan perbuatannya juga sangat santun”. (Septiandari, 2010:7)
Penokohan                  Watak tokoh Putri Mandalika yang memiliki sifat baik dan bijaksana.
“Putri Mandalika adalah seorang gadis yang cantik rupawan. Selain cantik, tutur kata dan perbuatannya juga sangat santun”. (Septiandari, 2010:7)

Latar/Setting               Latar tempat, Pantai Kuta Lombok
“Di pantai Lombok bagian selatan berdirilah sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Tunjung Bitu”. (Septiandari, 2010:7)
                                    Latar waktu, zaman dahulu kala
“Pada zaman dahulu kala, di pantai Lombok bagian selatan berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Tunjung Bitu.” (Septiandari, 2010:7)
                                    Latar suasana, terharu dan sedih.
“Putri Mandalika tidak mampu meneruskan ucapannya. Hatinya sangat bersedih. Tanpa terasa, air mata menetes di pipinya. Melihat Putri Mandalika menangis, raja, permaisuri dan segenap rakyat Tunjung Bitu ikut terharu. Tangis mereka pun pecah. (Septiandari, 2010:12)
Gaya bahasa                Mudah dipahami karena tidak berbelit-belit.
Sudut pandang                        Orang ketiga.
“Putri Mandalika yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ia didampingi oleh raja Tonjang Bitu, Dewi Seranting serta beberapa orang pengawal.” (Septiandari, 2010:11)
2.      Kisah Doyan Nada
Tema                           Kegigihan dan kesabaran hati
Amanat                       Tokoh Doyan Nada patut di turuti karena kegigihan dan kesabaran dia, Doyan Nada akhirnya mendapatkan kebahagiaan dan bisa menjadi seorang raja.
                                    “Perjalanan Doyan Nada penuh dengan rintangan.” (Septiandari, 2010:18)
Alur/Plot                     Alur maju
Tokoh                          Pelaku Utama, Doyan Nada (protagonis)
                                    Pelaku pembantu: Ayah Doyan Nada (antagonis)
                                                                 Ibu Doyan Nada     (tritagonis)
                                                                 Dewi Anjani           (tritagonis)
                                                                 Tameng Muter       (tritagonis)
                                                                 Sigar Penjalin         (tritagonis)
                                   
Penokohan                  Doyan Nada,
Pantang menyerah, walaupun sudah beberapa kali ayahnya mencoba membunuh Doyan Nada. “Doyan Nada hidup kembali. Ia pilang ke rumah dengan membawa batang pohon yang menimpanya. (Septiandari, 2010:18)
Ayah Doyan Nada,
Ayahnya sangat heran melihat Doyan Nada hidup kembali. Ia lalu mencari akal agar dapat membunuh Doyan Nada lagi.

Latar/Setting               Latar tempat, Gunung Rinjani
“Di Puncak Gunung Rinjani yang terdapat di pulau Lombok, berkuasalah seorang perempuan dari bangsa jin yang bernama Dewi Anjani.” (Septiandari, 2010:14)
Latar waktu, zaman dahulu kala
“Pada zaman dahulu kala, di puncak Gunung Rinjani di pulau Lombok, berkuasalah seorang perempuan dari bangsa jin yang bernama Dewi Anjani.” (Septiandari, 2010:14)
Latar suasana, bahagia setelah melewati berbagai rintangan
Tak lama kemudian, Doyan Nada dan kedua sahabatnya mendirikan kerajaan di Lombok.” (Septiandari, 2010:20)
Sudut pandang                        Orang ketiga
“Di tengah hutan ia beberapa kali dihadang oleh binatang buas.” (Septiandari, 2010:19)
Gaya bahasa                Mudah dipahami karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
3.      Papuq Mame dan Papuq Nine
Tema                           Ketamakan
Amanat                       Ketamakan hanya akan mendatangkan kerugian. Papuq Mame dan Papuq Nine tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Akibatnya mereka malah mendapatkan kerugian.
                                    “Maka berdoalah mereka kepada Tuhan. Mereka memohon agar diubah menjadi Tuhan. Setelah selesai berdoa, ternyata mereka kembali lagi menjadi sandal.” (Septiandari, 2010:33)
Alur/Plot                     Alur Maju
Tokoh                          Pelaku utama Papuq Mame, Papuq Nine
                                    Pelaku pembantu Raja, Ratu   (tritagonis)
Penokohan                  Papuq Mame dan Papuq Nine
“Begini saja. Bagaimana jika kita berdoa kepada Tuhan agar dijadikan sepasang tikus. Dengan begitu, tikus itu tidak akan menggigit kita,”ujar Papuq Mame kepada Papuq Nine.
Latar/Setting               Latar tempat, sebuah kerajaan di Lombok
“Di pulau Lombok, hiduplah seorang raja yang memiliki sepasang sandal dari kulit kerbau.” (Septiandari, 2010:29)
Latar waktu, zaman dahulu kala
Pada zaman dahulu kala, di pulau Lombok, hiduplah seorang raja.” (Septiandari, 2010:29)
Latar suasana, kekhawatiran sepasang sandal
“Aku khawatir, lama-kelamaan kita bisa digigitnya.” (Septiandari, 2010:31)
Sudut pandang                        Orang ketiga
“Setelah menjadi tikus, mereka berdua suka membuat    ulah.” (Septiandari, 2010:31)
Gaya bahasa                Mudah dipahami karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
4.      Telaga Dundang
Tema                           Kesabaran seorang adik
Amanat                       Telaga Dundang memanfaatkan kebaikan adiknya yaitu Telaga Anis untuk mendapatkan perhatian lebih dari ibunya. Hal yang dilakukan Telaga Dundang tidak patut dituruti dikehidupan sehari-hari.
                                    “Telaga Dundang melahap makanan yang ada di talam merah. Ia tak ingat akan adiknya yang setengah hari membajak sawah.” (Safrudin, 2012:6)
Alur/Plot                     Alur maju
Tokoh                          Pemain utama,             Telaga Anis             (protagonis)
                                                                        Telaga Dundang      (antagonis)
                                    Pemain pembantu,       ibu                           (tritagonis)
                                                                        Putri Kenrang          (tritagonis)
Penokohan                  Telaga Anis
“Nama kita kan pemberian orang tua,” jawab Berhale (Telaga Anis). Tidak baik nanti kalau didengar oleh orang lain.”
Telaga Dundang
“Ya. Telaga Anis tak mau bekerja ia hanya duduk-duduk di bawah pohon itu,” kata Telaga Dundang membohongi ibunya.” (Safrudin, 2012:6)
Ibu
“Tidah usah. Kamu kan tidak kerja! Ini hanya untuk kakak mu,” kata sang ibu.” (Safrudin, 2012:6)
Latar/Setting               Latar tempat, pantai Kuta
“Tempat mereka terjun itu sekarang disebut Telaga Dundang, di pantai Kuta.” (Safrudin, 2012:8)
Latar waktu, zaman dahulu kala
siang hari
Telaga Anis istirahat. Ia duduk di bawah pohon ketujur untuk menghindari panasnya terik matahari.” (Safrudin, 2012:4)
Latar susana, sedih
Sang ibu, Telag Dundang dan Putri kenrang menangis melihat adiknya menghilang di tengah laut.” (Safrudin, 2012:8)
Sudut pandang                        Orang ketiga
“Telaga Anis telah tiba di pantai Kuta. Ia seperti berkata-kata pada kerbaunya.” (Safrudin, 2012:8)
Gaya bahasa                Mudah di pahami, karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
5.      Batu Goloq
Tema                           Penyesalan
Amanat                       Menghukum anak seharusnya tidak berlebihan karena akibat dari hukuman itu sang anak menghilang dan tidak bisa kembali lagi kepangkuan orang tua.
                                    “Batu besar itu semakin meninggi hingga di atas awan. Sedangkan kedua kakak beradik itu telah dibawa oleh bidadari ke alamnya melalui pintu langit yang tinggi.” (Safrudin, 2012:78)
Alur/Plot                     Alur Maju
Tokoh                          Pelaku utama, kakak dan adik (protagonis)
                                    Pelaku pembantu, Amaq Lembain dan Inaq Lembain
                                                                        (tritagonis)
Penokohan                  Kakak dan adik,
“Tak tahan mendengar rengekan sang adik, sang kakak pun mengambilkan nasi untuk adiknya.” (Safrudin, 2012:76)
Inaq Lembain dan Amaq Lembain
“Maafkan, anakku. Amaq dan Inaqmu hanya dapat sedikit kayu bakar, hanya bisa ditukar dengan umbi-umbian saja,” kata Inaq Lembain kepada kedua anaknya.” (Safrudin, 2012:72)
Latar/Setting               Latar tempat,  padamara, Lombok Timur, NTB
“Batu goloq itu pecah menjadi tiga bagian dan jatuh di tiga temapat yang menjadi asal usul nama desa di padamara, Lombok Timur, NTB.” (Safrudin, 2012:79)
Latar waktu, zaman dahulu kala
                        Pagi
“Setiap pagi, Amaq Lembain dan Inaq Lembain mereka selalu pergi ke tengah hutan yang jauh dari rumahnya.” (Safrudin, 2012:72)
Latar suasana, sedih
Inaq Lembain pun berteriak memanggil-manggil anaknya agar kembali ke rumah. Inaq Lembain menangis, sedangkan Amaq Lembain bersedih.” (Safrudin, 2012:78)
Sudut pandang                        Orang ketiga
“Masyarakat setempat mangetahui peristiwa itu. Sejak terjadinya peristiwa itu, masyarakat sekitar menamai batu itu dengan nama Batu Goloq.” (Safrudin, 2012:78)
Gaya bahasa                Mudah dipahami karena sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Unsur Ekstrinsik Cerita Rakyat Lombok
adalah unsur yang tidak secara langsung melekat dan membangun karya sastra.
1.      Asal Usul Upacara Bau Nyale
Di pantai Kute Lombok terdapat upacara Bau Nyale yang dilaksanakan pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak. Upacara itu dilakukan untuk mengenang pengorbanan Putri Mandalika yang mengorbankan dirinya demi perdamaian negeri tercinta. Putri Mandalika menjelma menjadi Nyale (cacing laut) setelah menceburkan dirinya ke laut.
Cerita Putri Mandalika tersebut ada karena cacing laut jelmaan Putri yang hanya ada di Pantai Kuta setiap tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak.
Pada saat itu masyarakat Sasak masih menggunakan sistem kerajaan yaitu di dalam cerita Asal Usul Upacara Bau Nyale terdapat kerajaan Tunjung Bitu.
“Pada zaman dahulu kala, di pantai Lombok bagian selatan, berdirilah sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Tunjung Bitu.” (Septiandari, 2010:7)
2.      Kisah Doyan Nada
Cerita Doyan Nada ini merupakan cerita yang mengangkat asal usul kerajaan di Pulau Lombok. “Tak lama kemudian, Doyan Nada dan kedua sahabtnya mendirikan kerajaan di Lombok.” (Septiandari, 2010:20)
Konon zaman dahulu kala pulau Lombok belum ada manusia yang menghuninya, sehingga Dewi Anjani merubah jin menjadi manusia. Kemudian manusia tersebut yaitu Doyan Nada dan sahabatnya mendirikan kerajaan setelah mengalami berbagai rintangan.
3.      Papuq Mame dan Papuq Nine
Kisah ini terjadi di sebuah kerajaan di Lombok. Sepasang sandal yang tidak tau diri, sandal yang tamak tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada didirinya. Sepasang sandal ini merupakan barang kesayangan sang raja, tetapi sandal ini ingin menaikkan status sosialnya menjadi raja. “Permohonan mereka (sepasang sandal) dikabulkan. Mereka diubah menjadi manusia kemudian menjadi raja.” Septiandari, 2010:32)
4.      Telaga Dundang
Kehidupan keluarga telaga dundang pada zaman dahulu adalah sebagai petani dan peternak kerbau. “Mereka mempunyai empat puluh empat ekor kerbau dan satu hektar sawah.” (Safrudin, 2012:1)
Telaga Dundang dan Telaga Anis setiap hari menggembala kerbau.
5.      Batu Goloq
Ekonomi keluarga Amaq Lembain dan Inaq Lembain termasuk kurang. “Beratap ijuk, berdinding bambu. Tampak sebuah rumah kecil berpagar berluntas, di tepi hutan jati. Katanya, rumah itu dihuni oleh Amaq Lembain dan Inaq Lembain beserta kedua anaknya.” (Safrudin, 2012:72)
Amaq Lembain dan Inaq Lembain setiap hari mencari kayu bakar di hutan untuk menukarkannya dengan beras.
Nilai Pendidikan Karakter dalam Cerita Rakyat Lombok
Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
(1) Religius                              (10) Semangat kebangsaan
(2) Jujur                                   (11) Cinta tanah air
(3) Toleransi                            (12) Menghargai prestasi
(4) Disiplin                              (13) Bersahabat/komunikatif
(5) Kerja keras                         (14) Cinta damai
(6) Kreatif                               (15) Gemar membaca
(7) Mandiri                              (16) Peduli lingkungan
(8) Demokratis                        (17) Peduli sosial
(9) Rasa Ingin Tahu                (18) Tanggung jawab
(Sumber:  Pusat Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya  dan  Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10)
1.      Asal Usul Upacara Bau Nyale
Pendidikan karakter dalam cerita “Asal Usul Upacara Bau Nyale”
Karakater tanggung jawab Putri Mandalika
“Aku mohon ayah tidak usah bingung memikirkan masalah ini. Biar aku saja yang menyelesaikannya karena ini adalah tanggung jawabku.” (Septiandari, 2010:9)
Sikap tanggung jawab sang putri di tunjukkan dengan dia tidak ingin membuat orang tuanya menyelesaikan masalah yang dia sebabkan.
Karakter cinta tanah air Putri Mandalika
“Ayah, ibu dan segenap rakyat Tunjung Bitu yang aku cintai. Maafkan jika keputusan ku ini tidak berkenan di hati kalian. Aku tidak bisa memilih siapa pun di antara pangeran-pangeran yang telah melamarku. Aku tidak pantas melakukan hal itu. Diriku adalah milik kalian semua.” (Septiandari, 2010:12)
Putri Mandalika melakukan hal itu agar tidak terjadi pertarungan para pangeran demi mendapatkannya, yang akan menyebabkan mala petaka di negerinya tercinta.
2.      Kisah Doyan Nada
Pendidikan karakter dalam kisah “Doyan Nada”
Karakter bersahabat Doyan Nada
“Petapa itu terlalu lama bertapa di bawah pohon beringin sampai akar beringin melilit tubuhnya. Doyan Nada segera menyelamatkannya. Petapa itu bernama Tameng Muter. Mereka pun bersahabat.” (Septiandari, 2010:19)
Karakter Doyan Nada tersebut patut dituruti dalam kehidupan sehari-hari, bahwa kita harus bersahabat dengan siapa pun.
Karakter ayah Doyan Nada yang tidak jujur
“Setelah Doyan Nada mati, ayahnya kembali pulang. Ketika istrinya menanyakan keberadaan Doyan Nada, ia pura-pura tidak tahu.” (Septiandari, 2010:17)
Karakter tidak jujur ayah Doyan Nada tidak patut dituruti di kehidupan sehari-hari.
3.      Papuq Mame dan Papuq Nine
Pendidikan karakter cerita “Papuq Mame dan Papuq Nine”
Karakter Papuq Mame dan Papuq Nine yang religious
“Mereka lalu berdoa kepada Tuhan. Tuhan mengabulkan doa mereka dan menjadikan mereka sepasang tikus.” (Septiandari, 2010:31)
Mereka mempercayai kebesaran Tuhan sehingga mereka berdoa dan Tuhan mengabulkan doanya. Tetapi mereka tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberikan, akhirnya mereka kembali lagi menjadi sepasang sandal.
4.      Telaga Dundang
Pendidikan karakter dalam cerita “Telaga Dundang”
Karakter tidak jujur Telaga Dundang
“Ya. Telaga Anis tak mau bekerja. Ia hanya duduk-duduk di bawah pohon itu,” kata Telaga Dundang sambil melahab makanan yang ada di depannya.” (Safrudin, 2012:6)
Telaga Dundang membohongi ibunya agar dia mendapatkan makanan. Dia lupa akan jerih payah adiknya yang bekerja. Sikap ketidak jujuran Telaga Dundang ini sangat tidak patut diikuti di kehidupan sehari-hari karena akan merugikan orang lain.
Karakter Telaga Anis yang bekerja keras
“Selepas istirahat, Telaga Anis membajak sawah. Lain halnya dengan Telaga Dundang. Ia tidak mau membantu adiknya membajak sawah.” (Safrudin, 2012:3)
5.      Batu Goloq
Pendidikan karakter cerita “Batu Goloq”
Karakter peduli sosial kakak
“Tak tahan akan rengekan sang adik, sang kakak pun mengambilkan nasi untuk adiknya.”( Safrudin, 2012:76)
Kakak tidak tahan melihat adiknya merengek karena lapar, sehingga dia mengambilkna nasi untuk adiknya. Dalam kehidupan sehari-hari kita patut memiliki jiwa sosial. Tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri tetapi kita juga harus membantu orang lain yang membutuhkan bantuan kita.

Kesimpulan
Cerita rakyat merupakan peninggalan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Cerita rakyat memiliki banyak pesan moral yang bisa dipetik anak-anak agar bisa tumbuh menjadi anak yang baik, memiliki sopan santun dan moral yang baik. Dalam cerita rakyat Lombok ini, pendidikan karakter tidak hanya diambil dari contoh-contoh baik namun juga contoh tidak terpuji. Dengan adanya perancangan Tugas Akhir ini diharapkan anak-anak lebih menyenangi cerita rakyat Indonesia, sehingga mereka bisa memetik pesan moral dan nilai pendidikan karakter yang ada di dalam cerita tersebut hingga mereka bisa bertumbuh menjadi anak yang baik.
Saran
Dengan adanya artikel “Cerita Rakyat Lombok” ini, anak-anak akan bisa bertumbuh menjadi anak yang baik saat mereka menyerap pesan moral, nilai pendidikan karakter dan pembelajaran yang ada di dalam cerita rakyat ini. Selain itu, mereka akan menjadi generasi penerus yang akan meneruskan cerita rakyat tersebut pada generasi berikutnya. Dengan begitu, maka cerita rakyat yang merupakan salah satu budaya Indonesia tidak akan hilang.
DAFTAR PUSTAKA
Pusat Kurikulum. (2009). Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah (hal. 9-10). Jakarta.
Septiandari, Sekar. 2010. Seri Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat. Jakarta: KARISMA Publishing Group.

Safrudin, Balok. 2012. Kumpulan Cerita Rakyat Suku Sasak. Lombok Timur: PRIMAGUNA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar