Selasa, 10 Desember 2013

Dikotomi Semiotika

Dikotomi “Parole” dan Lanque”



Menurut De Saussure, lanque merupakan suatu fakta sosial, seperti halnya bahasa nasional merupakan fakta sosial. Jadi, lanque adalah suatu sistem kode yang diketahui oleh semua anggota masyarakat pemakai bahasa tersebut, seolah-olah kode-kode tersebut telah disepakati bersama di masa di masa lalu di antara pemakai bahasa.
            De saussure membandingnkan dengan sebuah kamus yang dibagikan pada setiap pemakai bahasa tersebut. Dalam berkomunikasi, seorang penutur seakan-akan mencari dalam kamus itu citra akustis yang sesuai dengan konsep yang ingin diungkapakannya. Lawan bicaranya memiliki kamus yang sama, (kalau tidak demikian, tidak mungkin terjadi komunikasi). Setelah menangkap rangkaian bunyi yang diucapkan penutur, ia mencari konsep dari citra akustis yang ditangkapanya agar dapat memecahkan kode-kode tersebut. De Saussure  membayangkan “ kamus” ini sebagai suatu kumpulan guratan ingatan dalam otak setiap pemakai bahasa secara individual. Penutur seolah-olah memilih unsur-unsur tertentu dari “kamus” umum tersebut.
            Secara implisit dapat ditangkap bahwa lanque dan parole beroposisi, tetapi sekaligus juga saling tergantung. Itu berarti bahwa tidak ada yang lebih utama. Di satu pihak sistem yang berlaku dalam lanque adalah hasil produksi dari kegiatan parole, di lain pihak pengungkapan parole serta pemahamannya hanya mungkin berdasarkan penelusuran lanque sebagai sistem.
            Lanque sebagai gudang tanda dari semua ungkapan parole tidaklah merupakan “kumpulan dari ungkapan-ungkapan secara kebetulan, melainkan terdiri atas sebuah sistem dari unsur-unsur dan hubungan-hubungan yang mendasari sistem tersebut” (Bierwisch, 1966:81). Sebuah buku petunjuk jadwal dengan jaringan trayek kereta api dari suatu wilayah, misalnya, tidak memberi informasi tentang besarnya, arsitektur, serta kelengkapan stasiun yang disinggahi kereta api. Juga tidak mengenai jarak dari satu stasiun dengan stasiun lainnya. Relasi satu stasiun dengan stasiun lainnya sesuai dengan kedudukan setiap stasiun dalam kaitannya dengan keseluruhan sistem. Beranalogi dengan itu, struktur suatu sistem bahasa hanya dapat direkonstruksi dengan menganalisis ungkapn parole. Namun, itu tidak berarti bahwa struktur tersebut hanya menyangkup jumlah ungkapan parole yang sudah terucap sampai sekarang, melainkan mencangkup kemungkinan dari ungkapan parole yang belum direalisasi sampai skarang. Setiap ungkapan parole baru, dpat melahirkan kemungkinan keterkaitan baru yang sampai saat ini masih tersimpan sebagai kemungkinan dari sistem bahasa yang belum aktual.

            De Saussure menggambarkan pengertian sistem dengan membandingkan permainan catur. Menurut De saussure yang palig penting dalam permainan catur adalah peraturan-peraturannya. Jadi, hubungan antara unsur yang satu dengan yang lainnya, serta fungsi dari setiap unsur. Permainan catur itu sama dengan langue. Bagi setiap permainan tersedia seperangkat unsur atau anak catur dan aturan-aturan yng mengatur hubungan antar unsur. Setiap permainan terikat pada aturan permainan tersebut. Namun, si pemain dapat menentukan sendiri kapan ia ingin memainkan unsur yang ditentukannya sendiri dan bagaimana ia ingin memainkannya. Itu semua merupakan tindakan bebas si pemain sendiri sama halnya dengan parole sebagai penggunaan secara perorangan dari langue. Keterangan mengenai dari bahan apa anak catur itu terbuat, besarnya, maupun bentuk anak catur tersebut, tidak relevan. Sepotong kayu atau gambar dari karton dapat saja digunakan sebagai “menteri” misalnya. Tentunya setelah terjadi kesepakatan antara pemain. Benda tersebut harus berbentuk “menteri” agar dapat dibedakan dari anak catur lainnya. Kekuatan dari fungsi setiap anak catur adalah bahwa setiap anak catur bertentangan dengan semua anak catur lainnya. Sebuah anak catur dapat dapat dijelaskan dengan menunjukkan sifat-sifatnya yang berbeda dari anak catur lainnya. Demikian juga halnya setiap unsur dari sistem bahasa (katakanlah sebuah bahasa nasional) dapat dijelaskan dengan menunjukkan sifat-sifat bahasa nasional bersangkutan yang tidak dimiliki bahasa nasional lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebuah unsur bahasa baru mempunyai arti setelah kita menentukan nilainya dalam sistem bahasa bersangkutan dengan menyebutkan pertentangannya dengan unsur-unsur lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar