Dikotomi “Parole” dan Lanque”
Menurut
De Saussure, lanque merupakan suatu
fakta sosial, seperti halnya bahasa nasional merupakan fakta sosial. Jadi, lanque adalah suatu sistem kode yang
diketahui oleh semua anggota masyarakat pemakai bahasa tersebut, seolah-olah
kode-kode tersebut telah disepakati bersama di masa di masa lalu di antara
pemakai bahasa.
De saussure membandingnkan dengan
sebuah kamus yang dibagikan pada setiap pemakai bahasa tersebut. Dalam
berkomunikasi, seorang penutur seakan-akan mencari dalam kamus itu citra
akustis yang sesuai dengan konsep yang ingin diungkapakannya. Lawan bicaranya
memiliki kamus yang sama, (kalau tidak demikian, tidak mungkin terjadi
komunikasi). Setelah menangkap rangkaian bunyi yang diucapkan penutur, ia
mencari konsep dari citra akustis yang ditangkapanya agar dapat memecahkan
kode-kode tersebut. De Saussure
membayangkan “ kamus” ini sebagai suatu kumpulan guratan ingatan dalam
otak setiap pemakai bahasa secara individual. Penutur seolah-olah memilih
unsur-unsur tertentu dari “kamus” umum tersebut.
Secara implisit dapat ditangkap
bahwa lanque dan parole beroposisi, tetapi sekaligus juga saling tergantung. Itu
berarti bahwa tidak ada yang lebih utama. Di satu pihak sistem yang berlaku
dalam lanque adalah hasil produksi
dari kegiatan parole, di lain pihak pengungkapan parole serta pemahamannya
hanya mungkin berdasarkan penelusuran lanque
sebagai sistem.
Lanque
sebagai gudang tanda dari semua ungkapan parole tidaklah merupakan “kumpulan
dari ungkapan-ungkapan secara kebetulan, melainkan terdiri atas sebuah sistem
dari unsur-unsur dan hubungan-hubungan yang mendasari sistem tersebut”
(Bierwisch, 1966:81). Sebuah buku petunjuk jadwal dengan jaringan trayek kereta
api dari suatu wilayah, misalnya, tidak memberi informasi tentang besarnya,
arsitektur, serta kelengkapan stasiun yang disinggahi kereta api. Juga tidak
mengenai jarak dari satu stasiun dengan stasiun lainnya. Relasi satu stasiun
dengan stasiun lainnya sesuai dengan kedudukan setiap stasiun dalam kaitannya
dengan keseluruhan sistem. Beranalogi dengan itu, struktur suatu sistem bahasa
hanya dapat direkonstruksi dengan menganalisis ungkapn parole. Namun, itu tidak
berarti bahwa struktur tersebut hanya menyangkup jumlah ungkapan parole yang sudah terucap sampai
sekarang, melainkan mencangkup kemungkinan dari ungkapan parole yang belum direalisasi sampai skarang. Setiap ungkapan
parole baru, dpat melahirkan kemungkinan keterkaitan baru yang sampai saat ini
masih tersimpan sebagai kemungkinan dari sistem bahasa yang belum aktual.
De Saussure menggambarkan pengertian
sistem dengan membandingkan permainan catur. Menurut De saussure yang palig
penting dalam permainan catur adalah peraturan-peraturannya. Jadi, hubungan
antara unsur yang satu dengan yang lainnya, serta fungsi dari setiap unsur.
Permainan catur itu sama dengan langue.
Bagi setiap permainan tersedia seperangkat unsur atau anak catur dan
aturan-aturan yng mengatur hubungan antar unsur. Setiap permainan terikat pada
aturan permainan tersebut. Namun, si pemain dapat menentukan sendiri kapan ia ingin
memainkan unsur yang ditentukannya sendiri dan bagaimana ia ingin memainkannya.
Itu semua merupakan tindakan bebas si pemain sendiri sama halnya dengan parole sebagai penggunaan secara
perorangan dari langue. Keterangan
mengenai dari bahan apa anak catur itu terbuat, besarnya, maupun bentuk anak
catur tersebut, tidak relevan. Sepotong kayu atau gambar dari karton dapat saja
digunakan sebagai “menteri” misalnya. Tentunya setelah terjadi kesepakatan
antara pemain. Benda tersebut harus berbentuk “menteri” agar dapat dibedakan
dari anak catur lainnya. Kekuatan dari fungsi setiap anak catur adalah bahwa setiap
anak catur bertentangan dengan semua anak catur lainnya. Sebuah anak catur
dapat dapat dijelaskan dengan menunjukkan sifat-sifatnya yang berbeda dari anak
catur lainnya. Demikian juga halnya setiap unsur dari sistem bahasa (katakanlah
sebuah bahasa nasional) dapat dijelaskan dengan menunjukkan sifat-sifat bahasa
nasional bersangkutan yang tidak dimiliki bahasa nasional lainnya. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa sebuah unsur bahasa baru mempunyai arti setelah
kita menentukan nilainya dalam sistem bahasa bersangkutan dengan menyebutkan
pertentangannya dengan unsur-unsur lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar