Analisis
Puisi
Dari
segi istilah, semiotika berasal dari bahasa Yunani kuno “semeion” yang
berarti tanda atau “sign” dalam bahasa Inggris. Semiotik merupakan
ilmu yang mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan komuniasi dan ekspresi.
Sehubungan dengan sastra, semiotik secara khusus mengkaji karya sastra
(termasuk puisi) yang dipandang memiliki sistem tersendiri yang harus dikaitkan
dengan masalah seperti ekspresi, bahasa, situasi, simbol, dan gaya. Semiotika
menjadi satu istilah untuk kajian sastra yang bertolak dari pandangan bahwa
semua yang terdapat dalam karya sastra (termasuk puisi) merupakan
lambing-lambang atau kode-kode yang mempunyai arti atau makna tertentu. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa kajian semiotika merupakan kajian terhadap
tanda-tanda secara sistematis yang terdapat dalam karya sastra termasuk puisi.
Cintaku
Jauh di Pulau
Cintaku
Jauh Di Pulau
gadis manis, sekarang iseng sendiri
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
Chairil Anwar, 1946
Pengkongkretan
makna puisi dapat dilakukan dengan kerangka semiotika, yaitu melalui pembacaan heuristik dan retroaktif atau hermeneutik.
Artinya, pada mulanya puisi dibaca secara heuristik
atau memperjelas arti bahasa (konvensi bahasa), kemudian dibaca ulang dari awal
sampai akhir, retroaktif, dan
dilanjutkan dengan penafsiran atau pembacaan secara hermeneutik, yaitu menangkap dan memberi makna berdasarkan konvensi
sastra (puisi).
Pembacaan
Heuristik
Pembacaan
heuristik adalah pembacaan menurut
konvensi bahasa atau berdasarkan sistem bahasa normatif. Atau, dengan kata
lain, pembacaan menururt sistem bahasa sesuai dengan kedudukan bahasa
sebagai sistem semiotik tingkat pertama
(the firs order semiotics). Artinya, puisi dibaca secara linier seperti dibaca
menururt struktur normatif bahasa. Hal ini dilakukan karena bahasa puisi
menyimpang dari penggunaan bahasa normatif.
Pembacaan
heuristik terhadap puisi “Cintaku jauh di Pulau” karya Chairil Anwar
dapat dilakukan secara berikut:
Puisi
“Cintaku Jauh Di Pulau” karya Chairil Anwar merupakan ekspresi tidak langsung
dengan penyampaiannya menggunakan tanda-tanda.
Bait kesatu
Cintaku
(telah) jauh di pulau, gadis manis (itu), sekarang iseng sendiri
(-an)
Bait kedua
Perahu
(yang) melancar, bulan (yang) memancar. Di leher (telah) kukalungkan oleh-oleh
buat si pacar. Angin (telah) membantu, laut (menjadi) terang, tapi terasa aku
tidak ‘kan sampai padanya (ke tempat gadis manis).
Bait ketiga
Di
air yang tenang, di angin (yang) mendayu, di perasaan penghabisan segala
(sesuatu) melaju. Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke
pangkuanku saja,”
Bait keempat
Amboi!
Jalan sudah bertahun (-tahun) ku tempuh! Perahu yang bersama (berlayar) ‘kan
(menjadi) merapuh! Mengapa Ajal (telah) memanggil dulu. Sebelum sempat (aku)
berpeluk dengan cintaku?!
Bait Kelima
Manisku (yang) jauh di pulau,
kalau ‘ku (nanti) mati, dia (akan) mati iseng sendiri.
Pembacaan
Retroaktif
Pembacaan
retroaktif adalah pembacaan ulang dari awal sampai akhir dengan penafsiran.
Pembacaan ini adalah pemberian makna berdasarkan konvensi sastra (puisi). Puisi
menyatakan suatu gagasan secara tidak langsung, dengan kiasan (metafora),
ambiguitas, kontradiksi, dan pengorganisasian ruang teks (tanda-tanda visual).
Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan setelah retroaktif yang diberi
tafsiran secara hermeneutik sesuai
dengan konvensi sastra sebagai sistem semiotik tingkat kedua.
Pembacaan hermeneutik
terhadap puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar, terutama dilakukan
terhadap bahasa kiasan, secara khusus metafora. Pembacaannya (tafsirannya)
dapat dilakukan sebagai berikut:
Bait kesatu
Seorang kekasih yang berada di tempat yang sangat jauh, berbeda pulau
(Cintaku jauh di pulau). Seorang gadis manis yang menghabiskan waktunya
sehari-hari dengan kesendirian karena kekasihnya yang berada di tempat jauh atau
berbeda pulau.
Bait kedua
Sang kekasih yang menempuh perjalanan jauh dengan memakai perahu yang
sangat ingin menjumpai kekasihnya (gadis manis). Sang kekasih sudah membawa
oleh-oleh yang akan diberikan kepada kekasihnya (gadis manis). Pada saat itu cuaca
sangat bagus dan malam itu bulan bersinar dengan terang. Namun sang kekasih
gundah karena ia memiliki perasaan bahwa ia tidak akan sampai kepada kekasihnya
(gadis manis).
Bait ketiga
Perasaan
kekasih yang sedih karena tak kunjung bertemu dengan sang kekasih (gadis
manis). Walaupun air tenang, angin mendayu, tetapi ajal telah memanggil (ajal betahta sambil
berkata: “Tunjukkan perahu kepangkuanku saja”)
Bait keempat
Sang kekasih sudah berputus asa (amboi). Bertahun-tahun sang kekasih
sudah berlayar karena ingin bertemu dengan kekasihnya (gadis manis). Perahu
yang dipakaipun mau rusak karena akan merapuh tetapi ajal terlebih dahulu
menjemput. Sang kekasih terlebih dahulu mati tanpa bertemu dengan kekasihnya
(gadis manis)
Daftar
Pustaka
Gunatama, Gede. 2010. Buku Ajar
Puisi. Singaraja. Universitas
Pendidikan Ganesha

Tidak ada komentar:
Posting Komentar