Rabu, 18 Desember 2013


Analisis Puisi
Dari segi istilah, semiotika berasal dari bahasa Yunani kuno “semeion” yang berarti tanda atau “sign” dalam bahasa Inggris. Semiotik merupakan ilmu yang mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan komuniasi dan ekspresi. Sehubungan dengan sastra, semiotik secara khusus mengkaji karya sastra (termasuk puisi) yang dipandang memiliki sistem tersendiri yang harus dikaitkan dengan masalah seperti ekspresi, bahasa, situasi, simbol, dan gaya. Semiotika menjadi satu istilah untuk kajian sastra yang bertolak dari pandangan bahwa semua yang terdapat dalam karya sastra (termasuk puisi) merupakan lambing-lambang atau kode-kode yang mempunyai arti atau makna tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kajian semiotika merupakan kajian terhadap tanda-tanda secara sistematis yang terdapat dalam karya sastra termasuk puisi­.
Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku Jauh Di Pulau
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
                                              Chairil Anwar, 1946
Pengkongkretan makna puisi dapat dilakukan dengan kerangka semiotika, yaitu melalui pembacaan heuristik dan retroaktif atau hermeneutik. Artinya, pada mulanya puisi dibaca secara heuristik atau memperjelas arti bahasa (konvensi bahasa), kemudian dibaca ulang dari awal sampai akhir, retroaktif, dan dilanjutkan dengan penafsiran atau pembacaan secara hermeneutik, yaitu menangkap dan memberi makna berdasarkan konvensi sastra (puisi).
Pembacaan Heuristik
Pembacaan heuristik adalah pembacaan menurut konvensi bahasa atau berdasarkan sistem bahasa normatif. Atau, dengan kata lain, pembacaan menururt sistem bahasa sesuai dengan kedudukan bahasa sebagai  sistem semiotik tingkat pertama (the firs order semiotics). Artinya, puisi dibaca secara linier seperti dibaca menururt struktur normatif bahasa. Hal ini dilakukan karena bahasa puisi menyimpang dari penggunaan bahasa normatif.
Pembacaan heuristik terhadap puisi “Cintaku jauh di Pulau” karya Chairil Anwar dapat dilakukan secara berikut:
Puisi “Cintaku Jauh Di Pulau” karya Chairil Anwar merupakan ekspresi tidak langsung dengan penyampaiannya menggunakan tanda-tanda.
Bait kesatu
Cintaku (telah) jauh di pulau, gadis manis (itu), sekarang iseng sendiri
(-an)

Bait kedua
Perahu (yang) melancar, bulan (yang) memancar. Di leher (telah) kukalungkan oleh-oleh buat si pacar. Angin (telah) membantu, laut (menjadi) terang, tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya (ke tempat gadis manis).



Bait ketiga
Di air yang tenang, di angin (yang) mendayu, di perasaan penghabisan segala (sesuatu)  melaju. Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Bait keempat
Amboi! Jalan sudah bertahun (-tahun) ku tempuh! Perahu yang bersama (berlayar) ‘kan (menjadi) merapuh! Mengapa Ajal (telah) memanggil dulu. Sebelum sempat (aku) berpeluk dengan cintaku?!
Bait Kelima
Manisku (yang) jauh di pulau, kalau ‘ku (nanti) mati, dia (akan) mati iseng sendiri.
Pembacaan Retroaktif
Pembacaan retroaktif adalah pembacaan ulang dari awal sampai akhir dengan penafsiran. Pembacaan ini adalah pemberian makna berdasarkan konvensi sastra (puisi). Puisi menyatakan suatu gagasan secara tidak langsung, dengan kiasan (metafora), ambiguitas, kontradiksi, dan pengorganisasian ruang teks (tanda-tanda visual).
Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan setelah retroaktif yang diberi tafsiran secara hermeneutik sesuai dengan konvensi sastra sebagai sistem semiotik tingkat kedua.
Pembacaan hermeneutik terhadap puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar, terutama dilakukan terhadap bahasa kiasan, secara khusus metafora. Pembacaannya (tafsirannya) dapat dilakukan sebagai berikut:
            Bait kesatu
Seorang kekasih yang berada di tempat yang sangat jauh, berbeda pulau (Cintaku jauh di pulau). Seorang gadis manis yang menghabiskan waktunya sehari-hari dengan kesendirian karena kekasihnya yang berada di tempat jauh atau berbeda pulau.
            Bait kedua
Sang kekasih yang menempuh perjalanan jauh dengan memakai perahu yang sangat ingin menjumpai kekasihnya (gadis manis). Sang kekasih sudah membawa oleh-oleh yang akan diberikan kepada kekasihnya (gadis manis). Pada saat itu cuaca sangat bagus dan malam itu bulan bersinar dengan terang. Namun sang kekasih gundah karena ia memiliki perasaan bahwa ia tidak akan sampai kepada kekasihnya (gadis manis).
            Bait ketiga
Perasaan kekasih yang sedih karena tak kunjung bertemu dengan sang kekasih (gadis manis). Walaupun air tenang, angin mendayu,  tetapi  ajal telah memanggil (ajal betahta sambil berkata: “Tunjukkan perahu kepangkuanku saja”)
Bait keempat
Sang kekasih sudah berputus asa (amboi). Bertahun-tahun sang kekasih sudah berlayar karena ingin bertemu dengan kekasihnya (gadis manis). Perahu yang dipakaipun mau rusak karena akan merapuh tetapi ajal terlebih dahulu menjemput. Sang kekasih terlebih dahulu mati tanpa bertemu dengan kekasihnya (gadis manis)

Daftar Pustaka
Gunatama, Gede. 2010. Buku Ajar Puisi. Singaraja. Universitas Pendidikan Ganesha







Tidak ada komentar:

Posting Komentar