Kamis, 12 Desember 2013

MAJALAH SASTRA

Sejak adanya pers (majalah) di Indonesia, majalah merupakan salah satu media yang di gunakan sastrawan untuk mempublikasikan karya-karya sastranya. Setelah Balai Pustaka berdiri, badan ini di jadikan tumpuan utama dalam menerbitkan buku-buku sastra. Yang pada ahirnya tahun 1953 Balai Pustaka sebagai badan penerbit, kedudukannya menjadi tidak menentu. Badan ini berkali-kali mengalami perubahan status. Hal ini sangat terkait dengan situasi politik pada saat itu, daya beli masyarakat menurun drastis, dan juga arena bernaung di bawah Kementrian P dan K merupaan penyebab kemacetan produksinya.
Akibat dari adanya impase (kemacetan) ini, majalah kembali di jadikan sasaran pengarang untuk menerbitkan karyanya. Aktivitas sastra terutama hanya dalam majalah-majalah saja seperti gelanggang atau siasat, mimbar Indonesia, Zhenit, pujangga baru dan lain-ain. karena sifat majalah maka karangan-karangan yang mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpen dan karangan-karangan lain yang tidak begitu panjang. Keadaan seperti itulah yang menyebabkan lahirnya istilah “sastra majalah” istilah ini pertama kali dilontarkan oleh Nugroho Notosusanto yang dimuat dalam majalah kompas yang dipimpinnya.
Pandangan Soedjatmiko yang di kemukakan dalam majalh konfrontasi pada tahun 1954 ada yang mendukung dan ada yang kurang sependapat. Walaupun ada kemacetan produksi badan penerbit sastra balai pustaka akan tetapi sastra indonesia tetap terbit melalui majalah-majalah, bahkan banyak bermunculan pengarang-pengarang muda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar