MAJALAH SASTRA
Sejak
adanya pers (majalah) di Indonesia, majalah merupakan salah satu media yang di
gunakan sastrawan untuk mempublikasikan karya-karya sastranya. Setelah Balai
Pustaka berdiri, badan ini di jadikan tumpuan utama dalam menerbitkan buku-buku
sastra. Yang pada ahirnya tahun 1953 Balai Pustaka sebagai badan penerbit,
kedudukannya menjadi tidak menentu. Badan ini berkali-kali mengalami perubahan
status. Hal ini sangat terkait dengan situasi politik pada saat itu, daya beli
masyarakat menurun drastis, dan juga arena bernaung di bawah Kementrian P dan K
merupaan penyebab kemacetan produksinya.
Akibat
dari adanya impase (kemacetan) ini, majalah kembali di jadikan sasaran
pengarang untuk menerbitkan karyanya. Aktivitas sastra terutama hanya dalam
majalah-majalah saja seperti gelanggang atau siasat, mimbar Indonesia, Zhenit,
pujangga baru dan lain-ain. karena sifat majalah maka karangan-karangan yang
mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpen dan karangan-karangan lain
yang tidak begitu panjang. Keadaan seperti itulah yang menyebabkan lahirnya
istilah “sastra majalah” istilah ini pertama kali dilontarkan
oleh Nugroho Notosusanto yang dimuat dalam majalah kompas yang dipimpinnya.
Pandangan
Soedjatmiko yang di kemukakan dalam majalh konfrontasi pada tahun 1954 ada yang
mendukung dan ada yang kurang sependapat. Walaupun ada kemacetan produksi badan
penerbit sastra balai pustaka akan tetapi sastra indonesia tetap terbit melalui
majalah-majalah, bahkan banyak bermunculan pengarang-pengarang muda.
+150+dpi.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar