PUISI
1. Apa
pentingnya mengetahui ragam puisi ?
Jawaban : Pentingnya mengetahui ragam puisi yaitu dalam mengetahui atau
memahami ragam puisi diperlukan adanya apresiasi agar dapat
menyebabkan seseorang memahami puisi dengan penuh penghayatan, merasakan hal
yang ditulis penyair,memahami nilai-nilai yang terkandung dalam puisi,
menghargai karya tersebut,serta bisa
memahami dan menjelaskan puisi konvensional kontemporer,dan puisi
nonkonvensional kontemporer dengan baik dan cermat.
2. Mengapa
puisi itu dibagi berdasarkan ragam dan bentuknya?
Jawaban : Puisi
dibedakan atas ragam dan bentuknya. Karena dalam pemahaman puisi, hal yang
dipandang erat hubungannya adalah bentuk atau jenis puisi itu sendiri dan sudut
pandang penyair,serta bagaimana penyair dalam menyampaikan
inspirasinya,bagaimana menafsirkan puisi dengan mudah, sehingga mudah
mengklasifikasikan, termasuk jenis puisi apakah yang kita ciptakan. Menurut
pandangan puisi secara sederhana, puisi dapat diklasifikasikasikan berdasarkan
keragaman perkembangan menjadi dua bentuk, yakni, ragam puisi konvensional dan
ragam puisi nonkonvensional. Puisi Indonesia mulai dari bentuk puisi lama,
yakni pantun dan syair yang terdiri atas empat baris,dalam tiap-tiap baitnya
sampai dengan bentuk puisi baru (modern), yakni soneta yang berasal dari
Italia,kini mengalami perkembangan. Perkembangan selanjutnya pada tahun
1973,menyebabkan timbul bentuk puisi bebas yang sangat aneh dan ganjil menurut
ukuran Indonesia, yang sama-sama penting dalam sejarah sastra Indonesia.
3. Jelaskan
pembagian puisi menurut Herman J. Waluyo!
Jawaban
: Pembagian puisi menurut Herman J. Waluyo yaitu:
a. Puisi
naratif, lirik, dan deskritif
-
Puisi naratif/Epik
adalah puisi yang bersifat menjelaskan atau menceritakan sesuatu
-
Puisi lirik adalah
puisi yang mengungkapkan masalah-masalah yang bersumber dari dalam diri
penyair. Singkatnya, penyair mengungkapkan gagasan pribadinya atau personalnya.
-
Puisi deskriptif adalah
puisi yang mengandung kesan terhadap keadaan atau peristiwa, benda atau suasana
yang dipandang menarik perhatian penyair.
b. Puisi
Kamar dan Puisi Auditorium
-
Puisi kamar adalah
puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di
kamar.
-
Puisi auditorium adalah
puisi yang cocok untuk dibaca keras secara oral di auditorium atau mimbar yang
jumlah pendengarnya ratusan orang.
c. Puisi
fisikal, platinic, dan metafisikal
-
Puisi metafisiska
adalah puisi yang mengungkapkan perenungan dengan analogi antara mikrokosmos
dan makrokosmos melalui bahasa sehari-hari, pengungkapannya mendalam dengan
kelenturan ritme dan tema yang kompleks, baik suci maupun profan.
d. Puisis
subjektif dan puisi objektif
-
Puisi subjektif/personal
adalah puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam
diri penyair sendiri.
-
Puisi
objektif/impersonal adalah puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri
penyair itu sendiri. Puisi-puisi yang dapat digolongkan ke dalamnya adalah
puisi naratif dan puisi deskriptif.
e.
Puisi konkret adalah puisi yang sering disebut puisi rupa (pattern poetry)
karena lebih menekankan bentuk rupanya atau gambarannya atau ukirannya atau
bendanya. Dengan kata lain, puisi konkret adalah puisi yang pengaturan barisnya
membentuk gambar tertentu disesuaikan dengan judul, tema, dan perasaanya.
Contohnya, puisi tentang “Tuhan”, karya B. Pnyono Soediono.
f.
Puisi
diafan, puisi gelap, dan puisi prismatis
-
Puisi
Diafan adalah puisi yang kurang menggunakan pengimajian, kata-kata kongkret,
dan bahasa figuratif sehingga mirip dengan bahasa sehari-hari.
-
Puisi
gelap adalah puisi yang sulit atau gelap ditafsirkan maknanya.
-
Puisi
prismatis adalah puisi yang sulit dipahami karena banyak kata yang memiliki
makna ganda dan kata yang demikian memerlukan penafsiran.
g. Puisi
pernasian dan puisi inspiratif
h. Stanza
adalah puisi yang memiliki sanjak 8 untai
i.
Puisi demonstrasi dan
puisi inspiratif
j.
Puisi Alegori
4.
Jelaskan
perbedaan bentuk puisi mantra dan puisi konkret!
Jawaban :
a.
Puisi
mantra adalah puisi yang menempatkan bunyi sebagai kekuatan gaib atau sublim
yang dapat menimbulkan arti dan menciptakan gaya magis. Dengan kata lain, puisi
mantra adalah puisi yang mengikuti pola mantra. Akan tetapi, puisi mantra tidak
hanya dibentuk dan struktur kata-katanya yang mempunyai rima dan ritme,
melainkan dibentuk dan struktur batinnya, seprti pada puisi Sang-Hai,
Sepisaupi, Hai, Mantera, Batu, O, dan Belajar Membaca.
b.
Puisi
Konkret (concret poetry) adalah puisi yang sering disebut puisi rupa (pattern
poetry) karena lebih menekankan bentuk rupanya atau gambarannya atau ukirannya
atau bendanya. Dengan kata lain, puisi konkret adalah puisi yang pengaturan
barisnya membentuk gambar tertentu disesuaikan dengan judul, tema, dan
perasaanya. Contohnya, puisi tentang “Tuhan”, karya B. Pnyono Soediono.
c.
Apa
pentingnya bunyi pada puisi Sutardji
Calzoum Bachri?
Jawaban :
5.
Mengapa
puisi mbeling dapat dikategorikan sebagai puisi awam?
Jawaban : “puisi
mbeling” adalah puisi ringan yang
tujuannya membebaskan rasa tertekan, gelisah, dan tegang, sedangkan “puisi awam”
adalah puisi biasa, tidak istimewa. Dari puisi mbeling menjadi puisi
lugu, selanjutnya berubah menjadi “puisi awam” pada tahun 1975. Puisi awam
dimaksudkan sebagai puisi porsi kaum awam. Sasarannya ialah mencapai kepuasan,
kesenangan, kegembiraan, dan rekreasi bagi publik yang awam (Suriatmadja,
1975a).
6.
Sebutkan
ciri-ciri yang dapat dimasukkan ke dalam puisi mbeling?
Jawaban :
Puisi
mbeling adalah puisi yang mengungkapkan hidup sosial dan masyarakat kota yang
sering menunjukkan sikap pesimis, skeptis, individualistis, dan anarsis. Selain
itu, puisi mbeling juga disebut sebagai puisi yang tidak mengikuti aturan.
Aturan puisi yang dimaksud ialah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam
puisi. Puisi ini muncul pertama kali dalam majalah Aktuil yang menyediakan
lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya yaitu Remy Silado,
dan lembar tersebut diberi nama "Puisi Mbeling".
ciri – ciri yang dapat dimasukan ke
dalam puisi mbeling adalah
a. Mengutamakan
unsur kelakar yakni pengarang memanfaatkan semua unsur puisi berupa bunyi,
rima, irama, pilihan kata dan tipografi untuk mencapai efek kelakar tanpa ada
maksud lain yang disembunyikan (tersirat).
b. Melontarkan
atau menyampaikan kritik sosial
c. Menggunakan bahasa yang lugas
d. Membentuk lelucon
e. Tidak terikat konvensi puisi pada
umumnya
f. Pengungkapan
kesan sekilas dari peristiwa kehidupan sehari-hari, apakah itu peristiwa
kehidupan yang besar atau kecil, diungkapkan oleh penyair secara lugu dan
mengandung humor
g. Penggunaan
diksi dan simbol yang ringan dan tepat, bahkan kata-kata yang sering
dipergunakan oleh penyair adalah kata-kata yang kasar dan jorok
h.
Cara pengungkapan
bersifat blak-blakan, terus terang, di samping penggunaan bahasa kacauan, atau
penggunaan bahasa yang tidak mengindahkan norma bahasa.
7.
Jelaskan
letak perbedaan pantun dan puisi !
Jawaban :
Pantun merupakan salah satu jenis puisi
lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara, pada umumnya
terdiri atas empat baris yang bersajak bersilih dua-dua (pola ab-ab), dan
biasanya tiap baris terdiri atas empat perkataan
Ciri-ciri
pantun :
pantun:
a. Setiap
baris terdiri atas baris baris misalnya pantun dua baris
b. Terdapat
jumlah suku kata dalam setiap barisnya , yaitu antara delapan hingga sepuluh
c. Terdapat
dua bagian yaitu sampiran dan isI
d. Skema
rima atau sajak dalam pantun adalah a-a-b-b
Puisi adalah susunan
kata yang indah, bermakna, dan terikat konvensi (aturan) serta unsur-unsur
bunyi. Ciri umumnya adalah bahasa yang padat, penuh metafor.
Ciri-ciri
puisi :
a. tidak
terkait oleh baris baris.
b. tidak
ada jumlah suku kata
c. tidak
mengenal sampiran , keseluruhan baris merupakan isi
d. dalam
puisi lama juga dikenal rima dan sajak , tetapi dalam perkembangan nya puisi
modern lebih menganut asas kebebsan dalam bersajak.
8.
Jelaskan
rumusan pembagian puisi menurut Jus Badudu !
Jawaban : menurut Jus Badudu, puisi
dapat dibagi berdasarkan bentuknya yakni puisi lama dan puisi baru
Puisi lama terdiri dari :
a. Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
b.
Bidal
adalah kalimat singkat yang menganduna
pengertian atau kiasan dan membayangkan sindiran.
c.
Pantun
adalah puisi yang
bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12
suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi.
Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat,
teka-teki, jenaka.
d.
Syair
adalah puisi yang
bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi
nasihat atau cerita.
e.
Seloka
adalah bentuk puisi melayu Klasik, berisikan
pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan.
Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, kadang-kadang
dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
f. Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak
a-a-a-a, berisi nasihat.
g. Talibun adalah pantun genap
yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
9.
Jelaskan
rumusan pembagian puisi menurut Jus Badudu !
Rumusan pembagian puisi menurut Jus Badudu dapat dibedakan
berdasarkan bentuknya yakni:
Puisi lama
Puisi
lama adalah
puisi-puisi yang munculnya sejak zaman purba, lalu berkembang pesat hingga
tahun 1980. Puisi lama terbagi menjadi delapan jenis yaitu: mantra, bidal, pantun, syair, seloka,
gurindam, talibun.
Mantra merupakan puisi tua,
keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra,
melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Bidal adalah bahasa
berkias untuk mengungkapkan perasaan yang sehalus-halusnya, hingga orang lain
yang mendengarkan harus mendalami dan meresapi arti serta maksud dalam hatinya
sendiri, biasanya berisi nasihat, sindiran, peringatan, dan sebagainya. Bidal
Menurut penggunaannya bidal bisa diklasifikasikan menjadi beberapa macam,yaitu:
Pepatah, adalah kiasan tepat
yang berupa kalimat sempurna dan pendek, pada mulanya dimaksudkan untuk
mematahkan pembicaraan orang lain. Contohnya:
·
Buruk muka cermin
dibelah.
·
Anjing menyalak takkan
menggigit.
·
Besar bungkus tak
berisi.
Perumpamaan, adalah majas yang
berupa perbandingan dua hal yang pada hakikat berbeda, tetapi sengaja dianggap
sama (secara eksplisit dinyatakan dengan kata-kata pembanding umpama, bak,
bagai, seperti, ibarat, dsb). Contoh:
·
Soraknya seperti gunung
runtuh.
·
Wajahnya laksana bulan
kesiangan.
·
Seperti mendapat durian
runtuh.
Ibarat, adalah perbandingan
dengnan seterang-terangnya dengan keadaan alam sekitarnya, yang mengandung
sifat puisi di dalamnya. Contoh:
·
Hendaklah seperti
tembikar, pecah satu pecah semua.
·
Ibarat bunga, segar
dipakai layu dibuang.
·
Bagai anak ayam
kehilangan induk, selalu saja dalam kebingungan.
Amsal, adalah kalimat pendek
untuk mengajarkan suatu kebenaran. Contoh:
·
Biar badan penat, asal
hati suka.
·
Boleh dipelajari,
jangan diikuti (untuk sesuatu yang jelek).
Tamsil, adalah kiasan pendek
yang bersajak dan berirama, seperti pantun kilat atau karmina. Contoh:
·
Ada ubi ada talas, ada
budi ada balas.
·
Tua-tua keladi, makin
tua makin menjadi.
·
Dekat kabut mata
tertutup, dekat maut maaf tertutup.
Pemeo, adalah kata-kata atau
kalimat-kalimat singkat baik yang mengandung ejekan atau semangat, yang ditiru
dari ucapan seseorang, dan kemudian sering diucapkan atau dipakai dalam
masyarakat. Contoh:
·
Sekali merdeka, tetap
merdeka!
·
Maju terus, pantang
mundur!
·
Rawe-rawe rantas,
malang-malang putung!
Sonata
adalah puisi
yang terdiri atas empat baris,yang terbagi
menjadi empat bait.Bait
pertama,dan kedua,masing-masing terdiri atas empat baris. Bait ketiga dan
keempat, masing-masing terdiri atas tiga baris.Pola sajak akhir sonata adalah a-b-a-a-b-b-a-c-d-e-c-d-e(Abram’s,1981:180).Jadi
sonata itu terdiri atas dua kuatrin (sajak empat seuntai) dan dua tersina (saja
tiga seuntai).
10. Siapakah yang dianggap sebagai
penyair puisi kontemporer
nonkonvensional?
Jawaban :
1)
Sutardji
Calzoum Bachri
2)
Hamid
Jabbar
3)
Ibrahim
Sattah
4)
Husni
Jabaludin
5)
Norca
Marendra
6)
Darmanto
Jatman
7)
Joss
Sahardi
8)
Dharma
Sari
9)
B.
Priyono
10)
Widjhi Muthari
11)
Frans
Nadjira
12)
Syahril
Latif
13)
Danarto
14)
Emha
Ainun Nadjib
15)
D.
Zawawi Imron

Tidak ada komentar:
Posting Komentar