Sabtu, 21 Desember 2013

PUISI




   1.  Apa pentingnya mengetahui ragam puisi ?
Jawaban : Pentingnya mengetahui ragam puisi yaitu dalam mengetahui atau memahami ragam puisi diperlukan adanya apresiasi agar dapat menyebabkan seseorang memahami puisi dengan penuh penghayatan, merasakan hal yang ditulis penyair,memahami nilai-nilai yang terkandung dalam puisi, menghargai karya tersebut,serta  bisa memahami dan menjelaskan puisi konvensional kontemporer,dan puisi nonkonvensional kontemporer dengan baik dan cermat.

2.      Mengapa puisi itu dibagi berdasarkan ragam dan bentuknya?
Jawaban :  Puisi dibedakan atas ragam dan bentuknya. Karena dalam pemahaman puisi, hal yang dipandang erat hubungannya adalah bentuk atau jenis puisi itu sendiri dan sudut pandang penyair,serta bagaimana penyair dalam menyampaikan inspirasinya,bagaimana menafsirkan puisi dengan mudah, sehingga mudah mengklasifikasikan, termasuk jenis puisi apakah yang kita ciptakan. Menurut pandangan puisi secara sederhana, puisi dapat diklasifikasikasikan berdasarkan keragaman perkembangan menjadi dua bentuk, yakni, ragam puisi konvensional dan ragam puisi nonkonvensional. Puisi Indonesia mulai dari bentuk puisi lama, yakni pantun dan syair yang terdiri atas empat baris,dalam tiap-tiap baitnya sampai dengan bentuk puisi baru (modern), yakni soneta yang berasal dari Italia,kini mengalami perkembangan. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1973,menyebabkan timbul bentuk puisi bebas yang sangat aneh dan ganjil menurut ukuran Indonesia, yang sama-sama penting dalam sejarah sastra Indonesia.

3.      Jelaskan pembagian puisi menurut Herman J. Waluyo!
Jawaban : Pembagian puisi menurut Herman J. Waluyo yaitu:
a.       Puisi naratif, lirik, dan deskritif
-          Puisi naratif/Epik adalah puisi yang bersifat menjelaskan atau menceritakan sesuatu
-          Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan masalah-masalah yang bersumber dari dalam diri penyair. Singkatnya, penyair mengungkapkan gagasan pribadinya atau personalnya.
-          Puisi deskriptif adalah puisi yang mengandung kesan terhadap keadaan atau peristiwa, benda atau suasana yang dipandang menarik perhatian penyair.
b.      Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
-          Puisi kamar adalah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di kamar.
-          Puisi auditorium adalah puisi yang cocok untuk dibaca keras secara oral di auditorium atau mimbar yang jumlah pendengarnya ratusan orang.
c.       Puisi fisikal, platinic, dan metafisikal
-          Puisi metafisiska adalah puisi yang mengungkapkan perenungan dengan analogi antara mikrokosmos dan makrokosmos melalui bahasa sehari-hari, pengungkapannya mendalam dengan kelenturan ritme dan tema yang kompleks, baik suci maupun profan.
d.      Puisis subjektif dan puisi objektif
-          Puisi subjektif/personal adalah puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri.
-          Puisi objektif/impersonal adalah puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Puisi-puisi yang dapat digolongkan ke dalamnya adalah puisi naratif dan puisi deskriptif.
e.       Puisi konkret adalah puisi yang sering disebut puisi rupa (pattern poetry) karena lebih menekankan bentuk rupanya atau gambarannya atau ukirannya atau bendanya. Dengan kata lain, puisi konkret adalah puisi yang pengaturan barisnya membentuk gambar tertentu disesuaikan dengan judul, tema, dan perasaanya. Contohnya, puisi tentang “Tuhan”, karya B. Pnyono Soediono.
f.       Puisi diafan, puisi gelap, dan puisi prismatis
-          Puisi Diafan adalah puisi yang kurang menggunakan pengimajian, kata-kata kongkret, dan bahasa figuratif sehingga mirip dengan bahasa sehari-hari.
-          Puisi gelap adalah puisi yang sulit atau gelap ditafsirkan maknanya.
-          Puisi prismatis adalah puisi yang sulit dipahami karena banyak kata yang memiliki makna ganda dan kata yang demikian memerlukan penafsiran.
g.      Puisi pernasian dan puisi inspiratif
h.      Stanza adalah puisi yang memiliki sanjak 8 untai
i.        Puisi demonstrasi dan puisi inspiratif
j.        Puisi Alegori
4.      Jelaskan perbedaan bentuk puisi mantra dan puisi konkret!
Jawaban :
a.       Puisi mantra adalah puisi yang menempatkan bunyi sebagai kekuatan gaib atau sublim yang dapat menimbulkan arti dan menciptakan gaya magis. Dengan kata lain, puisi mantra adalah puisi yang mengikuti pola mantra. Akan tetapi, puisi mantra tidak hanya dibentuk dan struktur kata-katanya yang mempunyai rima dan ritme, melainkan dibentuk dan struktur batinnya, seprti pada puisi Sang-Hai, Sepisaupi, Hai, Mantera, Batu, O, dan Belajar Membaca.
b.      Puisi Konkret (concret poetry) adalah puisi yang sering disebut puisi rupa (pattern poetry) karena lebih menekankan bentuk rupanya atau gambarannya atau ukirannya atau bendanya. Dengan kata lain, puisi konkret adalah puisi yang pengaturan barisnya membentuk gambar tertentu disesuaikan dengan judul, tema, dan perasaanya. Contohnya, puisi tentang “Tuhan”, karya B. Pnyono Soediono.

c.       Apa pentingnya bunyi pada puisi Sutardji Calzoum Bachri?
Jawaban :
5.      Mengapa puisi mbeling dapat dikategorikan sebagai puisi awam?
Jawaban : “puisi mbeling”  adalah puisi ringan yang tujuannya membebaskan rasa tertekan, gelisah, dan tegang, sedangkan  “puisi awam”  adalah puisi biasa, tidak istimewa. Dari puisi mbeling menjadi puisi lugu, selanjutnya berubah menjadi “puisi awam” pada tahun 1975. Puisi awam dimaksudkan sebagai puisi porsi kaum awam. Sasarannya ialah mencapai kepuasan, kesenangan, kegembiraan, dan rekreasi bagi publik yang awam (Suriatmadja, 1975a).

6.      Sebutkan ciri-ciri yang dapat dimasukkan ke dalam puisi mbeling?
Jawaban :
Puisi mbeling adalah puisi yang mengungkapkan hidup sosial dan masyarakat kota yang sering menunjukkan sikap pesimis, skeptis, individualistis, dan anarsis. Selain itu, puisi mbeling juga disebut sebagai puisi yang tidak mengikuti aturan. Aturan puisi yang dimaksud ialah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam puisi. Puisi ini muncul pertama kali dalam majalah Aktuil yang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya yaitu Remy Silado, dan lembar tersebut diberi nama "Puisi Mbeling".
ciri – ciri yang dapat dimasukan ke dalam puisi mbeling adalah
a.       Mengutamakan unsur kelakar yakni pengarang memanfaatkan semua unsur puisi berupa bunyi, rima, irama, pilihan kata dan tipografi untuk mencapai efek kelakar tanpa ada maksud lain yang disembunyikan (tersirat).
b.      Melontarkan atau menyampaikan kritik sosial
c.       Menggunakan bahasa yang lugas
d.      Membentuk lelucon
e.       Tidak terikat konvensi puisi pada umumnya
f.       Pengungkapan kesan sekilas dari peristiwa kehidupan sehari-hari, apakah itu peristiwa kehidupan yang besar atau kecil, diungkapkan oleh penyair secara lugu dan mengandung humor
g.      Penggunaan diksi dan simbol yang ringan dan tepat, bahkan kata-kata yang sering dipergunakan oleh penyair adalah kata-kata yang kasar dan jorok
h.      Cara pengungkapan bersifat blak-blakan, terus terang, di samping penggunaan bahasa kacauan, atau penggunaan bahasa yang tidak mengindahkan norma bahasa.
7.      Jelaskan letak perbedaan pantun dan puisi !
Jawaban :
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara, pada umumnya terdiri atas empat baris yang bersajak bersilih dua-dua (pola ab-ab), dan biasanya tiap baris terdiri atas empat perkataan
Ciri-ciri pantun :
pantun:
a.  Setiap baris terdiri atas baris baris misalnya pantun dua baris
b.  Terdapat jumlah suku kata dalam setiap barisnya , yaitu antara delapan hingga    sepuluh
c.  Terdapat dua bagian yaitu sampiran dan isI
d. Skema rima atau sajak dalam pantun adalah a-a-b-b

Puisi adalah susunan kata yang indah, bermakna, dan terikat konvensi (aturan) serta unsur-unsur bunyi. Ciri umumnya adalah bahasa yang padat, penuh metafor.
Ciri-ciri puisi :
a.       tidak terkait oleh baris baris.
b.      tidak ada jumlah suku kata
c.       tidak mengenal sampiran , keseluruhan baris merupakan isi
d.      dalam puisi lama juga dikenal rima dan sajak , tetapi dalam perkembangan nya puisi modern lebih menganut asas kebebsan dalam bersajak.

8.      Jelaskan rumusan pembagian puisi menurut Jus Badudu !
Jawaban : menurut Jus Badudu, puisi dapat dibagi berdasarkan bentuknya yakni puisi lama dan puisi baru
Puisi lama terdiri dari :
a.       Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
b.      Bidal adalah kalimat singkat yang menganduna pengertian atau kiasan dan membayangkan sindiran.
c.       Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran,  2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
d.      Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
e.       Seloka adalah bentuk puisi melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, kadang-kadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
f.       Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
g.      Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.

9.      Jelaskan rumusan pembagian puisi menurut Jus Badudu !
Rumusan pembagian puisi menurut Jus Badudu dapat dibedakan berdasarkan bentuknya   yakni:
Puisi lama
Puisi lama adalah puisi-puisi yang munculnya sejak zaman purba, lalu berkembang pesat hingga tahun 1980. Puisi lama terbagi menjadi delapan jenis yaitu: mantra, bidal, pantun, syair, seloka, gurindam, talibun.
Mantra merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Bidal adalah bahasa berkias untuk mengungkapkan perasaan yang sehalus-halusnya, hingga orang lain yang mendengarkan harus mendalami dan meresapi arti serta maksud dalam hatinya sendiri, biasanya berisi nasihat, sindiran, peringatan, dan sebagainya. Bidal Menurut penggunaannya bidal bisa diklasifikasikan menjadi beberapa macam,yaitu:
Pepatah, adalah kiasan tepat yang berupa kalimat sempurna dan pendek, pada mulanya dimaksudkan untuk mematahkan pembicaraan orang lain. Contohnya:
·         Buruk muka cermin dibelah.
·         Anjing menyalak takkan menggigit.
·         Besar bungkus tak berisi.
Perumpamaan, adalah majas yang berupa perbandingan dua hal yang pada hakikat berbeda, tetapi sengaja dianggap sama (secara eksplisit dinyatakan dengan kata-kata pembanding umpama, bak, bagai, seperti, ibarat, dsb). Contoh:
·         Soraknya seperti gunung runtuh.
·         Wajahnya laksana bulan kesiangan.
·         Seperti mendapat durian runtuh.
Ibarat, adalah perbandingan dengnan seterang-terangnya dengan keadaan alam sekitarnya, yang mengandung sifat puisi di dalamnya. Contoh:
·         Hendaklah seperti tembikar, pecah satu pecah semua.
·         Ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang.
·         Bagai anak ayam kehilangan induk, selalu saja dalam kebingungan.
Amsal, adalah kalimat pendek untuk mengajarkan suatu kebenaran. Contoh:
·         Biar badan penat, asal hati suka.
·         Boleh dipelajari, jangan diikuti (untuk sesuatu yang jelek).
Tamsil, adalah kiasan pendek yang bersajak dan berirama, seperti pantun kilat atau karmina. Contoh:
·         Ada ubi ada talas, ada budi ada balas.
·         Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.
·         Dekat kabut mata tertutup, dekat maut maaf tertutup.
Pemeo, adalah kata-kata atau kalimat-kalimat singkat baik yang mengandung ejekan atau semangat, yang ditiru dari ucapan seseorang, dan kemudian sering diucapkan atau dipakai dalam masyarakat. Contoh:
·         Sekali merdeka, tetap merdeka!
·         Maju terus, pantang mundur!
·         Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!
Sonata adalah puisi yang terdiri atas empat baris,yang terbagi  menjadi empat   bait.Bait pertama,dan kedua,masing-masing terdiri atas empat baris. Bait ketiga dan keempat, masing-masing terdiri atas tiga baris.Pola sajak akhir sonata adalah a-b-a-a-b-b-a-c-d-e-c-d-e(Abram’s,1981:180).Jadi sonata itu terdiri atas dua kuatrin (sajak empat seuntai) dan dua tersina (saja tiga seuntai).
10.  Siapakah yang dianggap sebagai penyair  puisi kontemporer nonkonvensional?
Jawaban :
1)      Sutardji Calzoum Bachri
2)      Hamid Jabbar
3)      Ibrahim Sattah
4)      Husni Jabaludin
5)      Norca Marendra
6)      Darmanto Jatman
7)      Joss Sahardi
8)      Dharma Sari
9)      B. Priyono
10)   Widjhi Muthari
11)  Frans Nadjira
12)  Syahril Latif
13)  Danarto
14)  Emha Ainun Nadjib
15)  D. Zawawi Imron



Tidak ada komentar:

Posting Komentar