ASAL USUL
Lendang Nangka
Jauh
sebelum permukiman-permukiman yang pertama kali tiba di wilayah yang sekarang
bernama Lendang Nangka, kawasan ini adalah sebidang padang rumput (dalam bahasa
sasak sisebut lendang), yang sebelumnya bernama Pringgayuda artinya perang
tanding (dalam bahasa sasak di sebut “begelepukan”). Perang tanding atau
begelepukan merupakan bertanding mengadu kekuatan fisik secara keikhlasan
dengan menggunakan senjata keris yang telah diberi mantra, menurut keyakinan masing-masing
dan ilmu kejayaan (ilmu anti senjata). Pertandingan diadakan pada malam hari,
antara tanggal 14 dan 15 bulan purnama. Cara mencari lawan bertanding sama
seperti pertandingan “Perisan” hanya tidak di pertonton untuk umum, khusus
bagi mereka yang mempelajari ilmu kejayaan. Ada yang meninggal di tempat
kejadian, ada dalam perjalan pulang, dan ada yang setelah sampai rumahnya.
Menurut penuturan orang-orang tua, mereka datang dari Lombok Selatan, Lombok
Tengah, Lombok Barat dan Pulau Bali.
Selain dimanfaatkan tempat perang tanding
oleh penduduk di sekitarnya, terutama dari Peresak yang berasal dari Tanak
Malit/sebelah selatan Masbagik, juga dimanfaatkan untuk mengembala sapi. Pada
suatu ketika, masjid warga Peresak terbakar disambar petir, ahirnya mereka
pindah ke Tojang selatan persis di sebelah utara perkuburan sebelah timur desa
Lendang Nangka yang sekarang.
Di tengah padang rumput itu tumbuh
sebatang pohon nangka yang besar dan rindang, tempat para pengembala berteduh,
sambil menikmati makanan (takilan) untuk makan siang, terutama mereka yang
pulang menjelang terbenamnya matahari. Kawasan ini juga merupakan jalan lintas
bagi pejalan kaki dari bagian timur (Pringgabaya) ke Lombok Barat melewati waja
geseng Lombok Tengah. Pejalan kaki yang melewati kawasn ini selalu beristirahat
sambil makan siang di bawah pohon nangka yang ada di padang rumput itu. Lama
kelamaan muncul ucapan di kalangan mereka, baik pengembala sapi maupun pejalan
kaki, untuk nantinya beristirahat di tengah padang (Lendang) yang ada pohon
nangkanya. Dari sinilah timbul nama baru untuk kawasan ini dari nama Pringgayuda
menjadi Lendang Nangka.
Para pemukim yang berada di Tojang
selatan, yang bersal dari Peresak membangun pondok-pondok darurat menyatu
dengan binatang ternaknya dan ahirnya pindah bersama keluarga membangun gubuk
(kampung) yang dirasakannya aman serta subur menjadi lahan pertanian.
Selanjutnya
para bangsawan, tokoh adat, tokoh agama membangun rumah tempat tinggal bersama
keluarganya di Lendang Nangka yang ada pohon nangkanya dan berkembang menjadi
beberapa kampung. Termasuk yang mambangun pondok darurat di Tojang selatan ikut
pindah ke Lendang Nangka, yang dalam bahasa Indonesia berarti padang nangka.
Sekitar 2,5 abad yang silam, yaitu
sekitar tahun 1770 dibentuk sebuah desa oleh para bangsawan bersama-sama tokoh
agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta pemukim-pemukim lainnya. Dan sejak
itulah dimulainya sejarah desa ini dengan perkembangn selangkah demi selangkah
sampai dengan yang sekarang dijumpai ini. Lendang Nangka pernah menjadi
kecamatan Lendang Nangka tahun 1968 sampai tahun 1972, meliputi desa Lendang Nangka,
Kesik, Jurit, Pringgasela dan Pengadangan.
Saat dibentuk desa Lendang Nangka
bahkan sampai tahun 1940 saran perhubungan belum ada baik ke desa Masbagik,
Pringgasela, Kotaraja, maupun Kesik, yang ada hanya jalan setapak.
Pimpinan desa (kepala desa) sampai
tahun 2012 ini sudah 10 (sepuluh) periode, dari periode I sampai periode ke VII
kepala desa dipilih secara musyawarah untuk mufakat. Tidak ada yang mencalonkan
diri dan berambisi. Seiring dengan perkembangan demokrasi, pada tahun 1966
kepala desa Lendang Nangka dipilih langsung oleh rakyat. Calon kepala desa
harus memenuhi persyaratan, kecuali umur tidak menjadi syarat utama. Kepala
desa H. Lalu Adnan ikut mencalonkan diri di atas desakan penduduknya. Salah seorang warga bernama
Lalu zhar (beliau seorang tokoh agama) ikut mencalonkan dirinya. Hasil suara
terbanyak diraih oleh kepala desa lama yaitu H. Lalu Adnan.
Berikutnya, setelah habis masa
jabatanya, kembali diadakan pemilihan kepala desa dan H. Lalu Adnan kembali
mencalonkan dirinya menjadi kepala desa Lendang Nangka. Lalu Ridwan BA ikut
mencalonkan dirinya untuk bersaing merebut suara rakyat. Namun kembali kepala
desa H. Lalu Adnan meraih suara terbanyak . H. Lalu Adnan menjadi kepala desa
Lendang Nangka selama 48 tahun, sejak tahun 1937 dan berakhir tahun 1985 karena
meninggal dunia.
MANTAN KEPALA DESA LENDANG NANGKA
|
NO
|
NAMA
|
MULAI
|
BERAKHIR
|
MASA BAKTI
|
KET
|
|
1
|
LALU ACAK
|
1770
|
1820
|
50 TH
|
|
|
2
|
LALU DULLAH
|
1820
|
1975
|
55 TH
|
|
|
3
|
H. ABDUL GAFUR
|
1875
|
1894
|
19 TH
|
|
|
4
|
H. LALU HUSEN
|
1894
|
1896
|
2 TH
|
|
|
5
|
LALU AGUS
|
1896
|
1812
|
16 TH
|
|
|
6
|
MAMIQ MUSTIKA
|
1912
|
1937
|
25 TH
|
|
|
7
|
H. L. ADNAN
|
1937
|
1985
|
48 TH
|
|
|
8
|
H. L. RUSLAN
|
1985
|
2001
|
16 TH
|
|
|
9
|
H. L. RUSLIN
|
2001
|
2007
|
6 TH
|
|
1.
WILAYAH
DESA LENDANG NANGKA
Luas wilayah desa Lendang Nangka
12.15 km2 dengan jumlah penduduk 16.946 jiwa, terletak pada ketinggian 500 m di
atas permukaan air laut. Bentuknya memanjang dari selatan ke utara. Bagian utara terdapat dataran
tinggi dan bagian selatan dataran rendah. Pada
perbatasan dataran tinggi dan rendah, berjejer mata air di antara 18 mata air yang ada di
desa Lendang Nangka.
Dua buah mata air yang besar yaitu:
mata air Tojang dan Tigasa. Batas-batasnya:
Sebelah utara : hutan lindung
Sebelah selatan : desa Danger
Sebelah timur : desa Jurit
Sebelah barat : desa Danger, Kotaraja dan desa Kembang
Kuning
2.
ORBITASI
DESA
Orbit desa dengan kota
·
Jarak dengan Kecamatan
Masbagik : 4.5 km
·
Jarak dengan Kabupaten Lombok Timur : 11 km
·
Jarak dengan ibukota
Provinsi NTB : 50 km
3.
IKLIM
Iklim sama dengan desa-desa lain di Kecamatan
Masbagik Yaitu: iklim tropis, di mana musim kemarau lebih panjang dari musim
hujan. Hujan turun relatif rendah antara 2.000 s/d 3.000 mm per tahun. Meski
demikian petani masih dapat menanam padi 2 sampai 3 kali dalam setahun, bila
tidak ada pola tanam.
4.
HIDROGRAFI
Keadaan
pengairan di desa Lendang Nangka tidak mendapat kesulitan yang berarti, karena
tersedianya sumber mata air dan irigasi.
5.
FLORA
Jenis tumbuhan yang terdapat di desa
Lendang Nangka:
·
Tanaman musiman: padi,
jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, tembakau.
·
Tanaman keras: nangka,
kelapa, mangga, durian, kemiri, dll
6.
KESEHATAN
Di desa Lendang Nangka terdapat sebuah
puskesmas dan polindes. Masyarakat yang kurang mampu dapat menggunakan kartu
JPS-BK. Dalam menunjang kesehatan masyarakat peran serta dari 57 relawan/ kader posyandu yang tersebar di
17 posyandu, cukup membantu. Sejak warga mendapat
air bersih, jarang di denger warga sakit muntaber dan diare.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar