Selasa, 17 Desember 2013


ASAL USUL
Lendang Nangka



Jauh sebelum permukiman-permukiman yang pertama kali tiba di wilayah yang sekarang bernama Lendang Nangka, kawasan ini adalah sebidang padang rumput (dalam bahasa sasak sisebut lendang), yang sebelumnya bernama Pringgayuda artinya perang tanding (dalam bahasa sasak di sebut “begelepukan”). Perang tanding atau begelepukan merupakan bertanding mengadu kekuatan fisik secara keikhlasan dengan menggunakan senjata keris yang telah diberi mantra, menurut keyakinan masing-masing dan ilmu kejayaan (ilmu anti senjata). Pertandingan diadakan pada malam hari, antara tanggal 14 dan 15 bulan purnama. Cara mencari lawan bertanding sama seperti pertandingan  “Perisan”  hanya tidak di pertonton untuk umum, khusus bagi mereka yang mempelajari ilmu kejayaan. Ada yang meninggal di tempat kejadian, ada dalam perjalan pulang, dan ada yang setelah sampai rumahnya. Menurut penuturan orang-orang tua, mereka datang dari Lombok Selatan, Lombok Tengah, Lombok Barat dan Pulau Bali.
            Selain dimanfaatkan tempat perang tanding oleh penduduk di sekitarnya, terutama dari Peresak yang berasal dari Tanak Malit/sebelah selatan Masbagik, juga dimanfaatkan untuk mengembala sapi. Pada suatu ketika, masjid warga Peresak terbakar disambar petir, ahirnya mereka pindah ke Tojang selatan persis di sebelah utara perkuburan sebelah timur desa Lendang Nangka yang sekarang.
                       Di tengah padang rumput itu tumbuh sebatang pohon nangka yang besar dan rindang, tempat para pengembala berteduh, sambil menikmati makanan (takilan) untuk makan siang, terutama mereka yang pulang menjelang terbenamnya matahari. Kawasan ini juga merupakan jalan lintas bagi pejalan kaki dari bagian timur (Pringgabaya) ke Lombok Barat melewati waja geseng Lombok Tengah. Pejalan kaki yang melewati kawasn ini selalu beristirahat sambil makan siang di bawah pohon nangka yang ada di padang rumput itu. Lama kelamaan muncul ucapan di kalangan mereka, baik pengembala sapi maupun pejalan kaki, untuk nantinya beristirahat di tengah padang (Lendang) yang ada pohon nangkanya. Dari sinilah timbul nama baru untuk kawasan ini dari nama Pringgayuda menjadi Lendang Nangka.
            Para pemukim yang berada di Tojang selatan, yang bersal dari Peresak membangun pondok-pondok darurat menyatu dengan binatang ternaknya dan ahirnya pindah bersama keluarga membangun gubuk (kampung) yang dirasakannya aman serta subur menjadi lahan pertanian.
Selanjutnya para bangsawan, tokoh adat, tokoh agama membangun rumah tempat tinggal bersama keluarganya di Lendang Nangka yang ada pohon nangkanya dan berkembang menjadi beberapa kampung. Termasuk yang mambangun pondok darurat di Tojang selatan ikut pindah ke Lendang Nangka, yang dalam bahasa Indonesia berarti padang nangka.
            Sekitar 2,5 abad yang silam, yaitu sekitar tahun 1770 dibentuk sebuah desa oleh para bangsawan bersama-sama tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat serta pemukim-pemukim lainnya. Dan sejak itulah dimulainya sejarah desa ini dengan perkembangn selangkah demi selangkah sampai dengan yang sekarang dijumpai ini. Lendang Nangka pernah menjadi kecamatan Lendang Nangka tahun 1968 sampai tahun 1972, meliputi desa Lendang Nangka, Kesik, Jurit, Pringgasela dan Pengadangan.
            Saat dibentuk desa Lendang Nangka bahkan sampai tahun 1940 saran perhubungan belum ada baik ke desa Masbagik, Pringgasela, Kotaraja, maupun Kesik, yang ada hanya jalan setapak.
            Pimpinan desa (kepala desa) sampai tahun 2012 ini sudah 10 (sepuluh) periode, dari periode I sampai periode ke VII kepala desa dipilih secara musyawarah untuk mufakat. Tidak ada yang mencalonkan diri dan berambisi. Seiring dengan perkembangan demokrasi, pada tahun 1966 kepala desa Lendang Nangka dipilih langsung oleh rakyat. Calon kepala desa harus memenuhi persyaratan, kecuali umur tidak menjadi syarat utama. Kepala desa H. Lalu Adnan ikut mencalonkan diri di atas  desakan penduduknya. Salah seorang warga bernama Lalu zhar (beliau seorang tokoh agama) ikut mencalonkan dirinya. Hasil suara terbanyak diraih oleh kepala desa lama yaitu H. Lalu Adnan.
            Berikutnya, setelah habis masa jabatanya, kembali diadakan pemilihan kepala desa dan H. Lalu Adnan kembali mencalonkan dirinya menjadi kepala desa Lendang Nangka. Lalu Ridwan BA ikut mencalonkan dirinya untuk bersaing merebut suara rakyat. Namun kembali kepala desa H. Lalu Adnan meraih suara terbanyak . H. Lalu Adnan menjadi kepala desa Lendang Nangka selama 48 tahun, sejak tahun 1937 dan berakhir tahun 1985 karena meninggal dunia.




MANTAN KEPALA DESA LENDANG NANGKA
NO
NAMA
MULAI
BERAKHIR
MASA BAKTI
KET
1
LALU ACAK
1770
1820
50 TH

2
LALU DULLAH
1820
1975
55 TH

3
H. ABDUL GAFUR
1875
1894
19 TH

4
H. LALU HUSEN
1894
1896
  2 TH

5
LALU AGUS
1896
1812
16 TH

6
MAMIQ MUSTIKA
1912
1937
25 TH

7
H. L. ADNAN
1937
1985
48 TH

8
H. L. RUSLAN
1985
2001
16 TH

9
H. L. RUSLIN
2001
2007
  6 TH


1.      WILAYAH DESA LENDANG NANGKA
            Luas wilayah desa Lendang Nangka 12.15 km2 dengan jumlah penduduk 16.946 jiwa, terletak pada ketinggian 500 m di atas permukaan air laut. Bentuknya memanjang dari selatan  ke utara. Bagian utara terdapat dataran tinggi dan bagian selatan dataran rendah. Pada  perbatasan dataran tinggi dan rendah, berjejer  mata air di antara 18 mata air yang ada di desa Lendang Nangka.
        Dua buah mata air yang besar yaitu:
mata air Tojang dan Tigasa. Batas-batasnya:
             Sebelah utara           : hutan lindung
             Sebelah selatan        : desa Danger
             Sebelah timur           : desa Jurit
             Sebelah barat           : desa Danger, Kotaraja dan desa Kembang     
                                                Kuning

2.      ORBITASI DESA
           Orbit desa dengan kota
·         Jarak dengan Kecamatan Masbagik             : 4.5 km
·         Jarak dengan  Kabupaten Lombok Timur   : 11 km
·         Jarak dengan ibukota Provinsi NTB           : 50 km


3.      IKLIM
          Iklim sama dengan desa-desa lain di Kecamatan Masbagik Yaitu: iklim tropis, di mana musim kemarau lebih panjang dari musim hujan. Hujan turun relatif rendah antara 2.000 s/d 3.000 mm per tahun. Meski demikian petani masih dapat menanam padi 2 sampai 3 kali dalam setahun, bila tidak ada pola tanam.

4.      HIDROGRAFI
            Keadaan pengairan di desa Lendang Nangka tidak mendapat kesulitan yang berarti, karena tersedianya sumber mata air dan irigasi.

5.      FLORA
           Jenis tumbuhan yang terdapat di desa Lendang Nangka:
·         Tanaman musiman: padi, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan,   tembakau.
·         Tanaman keras: nangka, kelapa, mangga, durian, kemiri, dll

6.      KESEHATAN
         Di desa Lendang Nangka terdapat sebuah puskesmas dan polindes. Masyarakat yang kurang mampu dapat menggunakan kartu JPS-BK. Dalam menunjang kesehatan masyarakat peran serta dari  57 relawan/ kader posyandu yang tersebar di 17 posyandu, cukup membantu. Sejak warga mendapat air bersih, jarang di denger warga sakit muntaber dan diare.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar